Posts

Showing posts from 2021

Saling Asih

Aku percaya akan selalu ada yang dibayarkan dalam berpasangan. Entah itu waktu, materi, atau bahkan tubuhmu. Dan aku percaya akan ada seseorang untuk seseorang. Ia seseorang yang dengan suka rela meluangkan isi kepalanya untuk memikirkan kecintaannya, merelakan hatinya untuk memikul rindu yang hadirnya tak pernah absen itu, dan merelakan perasaannya yang siap dikecewakan sewaktu-waktu. Semua yang rumit itu akan menjadi mudah bila saling tak menyerah. Mengenyam kenyataan yang pahit sekali pun tetap akan dilakoni jika seseorang itu tepat. Namun walau mematahkan hati berulang kali demi manusia lainnya tanpa saling, hati-hati mungkin kamu tengah menggali liang kuburmu sendiri.  Sesekali menangis atas peristiwa menyedihkan yang terjadi juga tak salah juga, namun akan menjadi keliru bila menangis dan kesedihan telah benar-benar mengganggu aktivitas sehari-harimu. Untuk melakoni hubungan harus dengan cinta namun dilakoni tetap dengan kewarasan.  Terkadang yang kamu cintai tak selalu ...

Bukan Cerita Negri Diatas Awan

      Pada akhirnya 2021 tidak membawaku pada seseorang yang baru. Tapi 2021 memberikan aku jatah bahagia pada akhirnya. Siapa sangka manusia yang dulu tancapkan lupa paling dalam kini merana kesakitan tak terelakkan.Dan siapa sangka manusia yang aku temui dua tahun lalu kini menjadi hadiah terindah, pembalut luka, 911 di segala kondisi dan situasi dalam hidupku. Ga deng yang terakhir bercanda hehe.      2021 yang tidak mempertemukan aku kepada seseorang yang baru, malah mempertemukan aku dengan bahagiaku sendiri. Mempertemukan aku dengan versi diriku yang lebih sehat dan segar dibandingkan tahun lalu. Bahagia dan syukur mengetuk pintu-pintu keikhlasan pada hal-hal yang tak berpihak padaku.  Namun memang ini jalan baiknya, memang ini alurnya. Aku sudah sampai disini dan bahagia walau sendiri. Klise, namun memang begitu. Semoga kamu dan kalian semua juga begitu ya.      Kali ini aku akan membawa kalian pada tokoh yang baru. Ia, manusia ya...

Eros

Pada saat kamu melihat aku sudah tidak sama lagi seperti yang kamu tau saat pertama kita bertemu, tak apa. Itu bukan masalah bagiku. Mungkin memang waktuku untuk merayumu sudah habis. Bahkan mungkin saat kamu tanpa aku kamu tidak pernah merindukan. Hanya merasa sedikit kesepian. Dan yang terjadi padaku saat ingatan masa lampau mengetuk ruang sadarku aku masih saja mengiba pada semesta agar mengembalikan aku kesana lagi.  Teringat saat di bawah remang lampu kamu bersandar di bahu dan ku bacakan puisi yang aku tulis hanya untukmu. Tidak ada janji untuk bertemu lagi, tidak ada janji untuk saling setia, tidak ada janji untuk menetap bersama. Namun keadaan kala itu seolah mengatakan janji itu semua. Atau mungkin imajinasiku saja yang berjalan terlalu cepat.  Kabut menyembunyikan perasaan ku yang selalu menunggu kedatanganmu. Lalu pada minggu ke duapuluh aku baru mengetahui arti lagu yang kamu nyanyikan setiap kita bertemu. Lagu padat isyarat untuk mengatakan bahwa bukan aku manusia...

......

 Tak ada yang abadi. Semua pasti punya tenggat waktunya. Termasuk pada hal hal yang dirasa tak mungkin terpisah. Tak ada yang abadi. Yang abadi hanya perasaan saat kenangan mengetuk pintu ingatan. Emosi yang dengan terlalu, entah sedih, senang, amarah atau kecewa. Atau perasaan lain yang mengganjal mata hingga tak bisa tidur.  Tak ada yang abadi. Aku yang dulu sangat kamu sekali bisa saja aku terbangun di suatu pagi dan kamu sudah tidak ada lagi padaku. Begitu juga sebaliknya. Maka untuk apa menyandarkan hidup pada makhluk hidup lainnya yang tak jauh berbeda dengan kita. Maka untuk apa mendamba menghamba pada manusia lainnya.  Tak ada yang tidak mungkin juga atas apa yang telah disetir semesta. Bisa saja keabadian itu ada, namun entah apa yang abadi. Bisa saja bukan dia orangnya, atau bukan disini tempatnya. Tidak ada yang tidak mungkin, kecuali memang tidak ada kesempatan dan memang bukan jalannya. Selama masih bisa putar arah, mengapa tidak? Selama masih bisa memilih ke...

Cakapan tunggal

 Saat aku menulis ini pesan terakhirku belum kamu balas, dan hanya kamu baca. Namun aku tak apa. Aku masih bisa melakukan ini dan itu dengan gembira dan baik-baik saja. Yang aku tak tau kenapa akhir-akhir ini aku mudah sekali terkejut dengan hal-hal sepele seperti suara ibuku yang menyapaku atau dering ponselku sendiri. Kalau aku mencari taunya lewat google sih itu tanda-tanda sedang stress, tapi yasudah lah ya, aku percaya diriku akan baik-baik saja.  Acin, vokalis The Panturas berkata "tonight will be fine" kalau tidak hari ini ya mungkin besok. Kata Hindia, "esok pasti sampai." Walau begitu aku juga tidak akan tetap diam disini menanti bahagia menghampiri. Aku akan melakukan ini dan itu, kesana kemari untuk bahagia sebab itu menjadi tanggung jawabku sendiri. Setidaknya apabila aku tidak merasa bahagia aku tidak perlu menyalahkan orang lain dan menyumpah serapahinya.  Aku menulis ini saat malam hari. Entah kenapa aku kebanyakan menulis di malam hari, mungkin saat ...

Karena Aku Cuma Satu

Memikirkan hal yang indah akan terjadi aja aku malu. Setelah kejadian itu aku menjadi sangat tidak percaya diri, namun ada waktu aku merasa sangat hebat sekali. Saat aku melihatmu dengannya aku sudah tidak menangis. Bahkan aku sudah tidak menerimamu kembali untuk bersamaku lagi. Walaupun kamu masih menjadi satu yang tak bisa lepas, manusia yang telah mencuri hatiku. Dengan perasaan yang lemah itu berhasil menyentuh sendiriku.  Apakah kamu bisa menatapku dan menemukan aku yang dulu? Bagaimana aku bisa mengerti hal-hal rumit dibalik tempurung kepalamu itu. Aku hanya tau jika kamu itu satu yang membuat luka hati manusia. Meski hatiku merasa masih ada satu harap, namun nalar tetap melawan tingginya hati. Sungguh aku tak mengerti. Aku hanya minta untuk kembalikan jiwaku walau dalam keadaan terluka. Aku tak apa, sungguh. Aku tetap akan berjalan dan mencari apa yang sedang terjadi di dalam hati ini. Walau sendiri.  Sudah banyak peduli yang tak berarti, sudah banyak hal berarti yang t...

Kamu, Jaga Kesehatan Ya.

 Kepada kamu manusia yang baru saja aku tau namanya. Ternyata kamu ada di kotaku lalu selama ini dimana aku kemana kamu. Kali ini aku sudah mempersiapkan hati jika kamu akan berakhir seperti yang lalu. Memangkas habis bibit harapan, membakar habis cemburu, menyempitkan khayal yang indah-indah. Sudah, kali ini aku jauh lebih kuat menghadapi perpisahan di tengah jalan yang bahagia. Dari tempat antah berantah kamu hadir menyapa, berjalan tujuh minggu dan sudah saling tau jika sama-sama mengemban luka. Tidak ada pertanyaan dan pernyataan siapa yang paling tersakiti. Bukan urusanku juga.  Kali ini aku belum jatuh, namun lumayan lah sudah jalan separuh. Maaf jika sesekali aku menganggapmu sama seperti yang lalu. Entah kamu memang sama, atau jauh berbeda aku tak pernah tau. Tak bisa ku terka. Usai perjumpaan yang itu aku masih samar merekam wajahmu dalam kepalaku, kamu masih ku lihat samar. Yang aku tau kamu cukup tampan untuk ukuran lelaki usia sebaya. Namun tidak ada harap untuk be...

Proses Pulih

Kamu tau apa bentuk kamu dan aku? Kita adalah manusia yang sedang jatuh cinta. Hanya saja dengan manusia yang berbeda. Cintaku bertepuk hampa harapan. Kini aku dan kamu adalah asing, manusia yang menyimpan perasaan bersalah pada balik kepala masing-masing. Namun akan tetap ku pastikan kamu tetap akan bisa merindukan aku walau tengah disampingnya. Sekarang kamu sudah pergi, lalu apakah kamu memutar arah langkah kala melihatku menangis sendirian? Bayangmu yang perlahan namun pasti mulai memudar di bawah sinar. Bayangan yang akan ku peluk lebih lama, namun nalarku buru-buru menyapunya. Lalu pada namamu aku menyelimuti tubuhku sendiri. Sambil menanti kapan waktumu untuk pulang. Walaupun aku tau segala yang hilang sulit untuk kembali pulang. Dan kenangan yang tertawa membuat semakin tragis karena memaksa untuk bersama yang makin tidak logis. Waktu yang selalu berpacu, malam masih membisu atau mungkin lebih ke tidak mau tau kala aku tau kamu sudah temukan gadis yang lebih manis.  Entah b...

Gaung Pilu

 Kepada kita yang dipersatukan oleh debu jalanan. Ada hasrat tersirat sejak tangan kita saling menjabat. Disaat pagi belia hadir diantara kita, aku dan kamu menjelma menjadi insan yang berdosa. Lunar jadi saksinya, melihat dengan penuh duka. Kita, manusia yang bertahan di tengah ke khilafan. Lalu kita ini apa? Sepertinya memang lebih baik begini, sebab dalam bias lebih bisa dirasakan.  Lalu kini kita telah selesai. Duka mulai mengurai. Hati sibuk mengingkari nyata yang mengetuk mata. Perasaan dalam bias yang lalu kini hanya omong kosong. Sekarang kita saling memberi makan pada rindu, saling beradu rasa cemas, dan berlomba untuk meraih bahagia. Aku pun kini tidak tau harus melakukan apa selain mencumbu bayangmu yang kini tersapu sadarku.  Musik yang mengalin dari speaker semberku terus mengalun seiring sepi yang menghujamku. Kehilanganmu adalah suatu kenyataan yang harus ku hadapi kala itu. Walau kala itu aku juga tak tau harus bagaimana untuk bertahan hidup. Aku seperti b...

Penghujung

Hai aku kembali lagi dengan perasaan yang sudah berbeda dan jauh lebih baik. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku di season ini. Aku ingin mengganti pesonaku saja, aku sudah mulai jengah menuliskan cerita tentang hati yang patah sebab hatiku sudah bukan milih patah lagi juga. Tidak yang terakhir itu hanya bercanda improvisasi saja, jika dirasa memang benar ya mungkin memang iya. Halah.  Banyak sekali yang terjadi padaku di tahun ini. Sudah banyak sekali ku utarakan, pada penghujung tahun 2020 yang porak poranda sampai pertengahan 2021 tak juga reda. Namun seiring itu aku mulai memunguti diriku sendiri yang berserakan dan membentuk aku yang baru. Walau sedikit sifat dan sikap masih sama ya bagaimana lagi aku tetap terdiri dari bagian yang sama, kadarnya saja yang berbeda.  Usia ku yang menginjak angka 20, banyak sekali mimpi yang belum tercapai, entah mungkin aku saja yang malas atau memang belum saatnya saja. Seiring hidup berjalan dengan tidak seperti inginku aku menja...

The End Game

 Lagi, lagi, lagi kamu menghindar. Apakah berbicara begitu sulit bagimu? Kamu ini kenapa? Sekarang kamu jarang bercanda ucapku, umpatku padamu waktu itu. Sebelum aku membuka tirai itu.  Lalu pada salah satu malam terlontar pengakuan yang tepat menusuk menghancurkan hatiku. "aku sudah punya kekasih baru." ucapmu kala itu entah mungkin diucapkan tanpa perasaan bersalah. Mana pernah kamu merasa bersalah dan memusingkan perasaanku. Tidak, sekalipun tidak pernah. Sudah kamu tak perlu membela dirimu yang menyembunyikan kabar itu sekian lama dengan dalih kamu menjaga perasaanku. Tidak, sama sekali tidak membuat hatiku terhindar dari kepatahan.  Akhir yang sudah dapat ku terka sebelumnya, aku sudah menyiapkan dari jauh jauh hari, kalau-kalau hari itu datang. Ternyata sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik kini. Malah, menciptakan aku yang terlalu gengsi untuk menangisi manusia berbentuk kamu. Aku terlalu malu untuk mengakui jika aku memang sayang kamu, aku butuh kamu. Aku ...

Sepotong Mimpi Buruk

      Jika disandingkan aku dengan dia, tidak ada habisnya sebab kita sangat berbeda. Kamu mengapa bisa tertawa saat aku sedang terluka? Saat ku sandingkan diriku dengan dia, sungguh lara tiada habisnya. lalu aku menangis dan terluka. Memar hatiku terpukul perasaan malu dan aku runtuh.  Sebut saja aku ini egois, kamu hanya untukku tidak untuk dia atau mereka.        Oh, matahari kian terik malam bersiap muncul. Hari bergulir entah sudah terjadi apa saja yang ada dibelakangku, lalu timbul tanya "Sudahkan bercumbu hatinya dan hatimu?" Apabila sudah terungkap kebenaran, tersingkap tabir, oh aku terkutuk dan mendendam hingga akhir aku. Aku runtuh. Runtuh. Runtuh. Lalu tiada lagi yang bisa temani nyawaku yang ada di dalam tubuh yang tak kau pilih ini. Aku meredup. Tertimpa sinarannya.        Sepi membeku disekitarku, senja tak lagi gemulai, malam menjadi teman sejati. Aku terjebak di lintasan waktu, tubuhku terbujur kaku. Siapa...

Terlelap di tengah rapalan namamu

Setiap malam aku tidak bisa tidur, kalau pun tertidur itu pasti karena ketiduran disaat aku sedang melakukan sesuatu. Sebelum tidur aku selalu rutin membaca buku dengan halama acak, dan aku akan tertidur pada lembar ke tiga. Atau aku akan menghitung mundur dari seribu sampai nol dan aku akan tertidur pada hitungan ke lima puluh. Semenjak saat itu, bagiku tidur menjadi hal yang mengerikan. Aku takut akan bayang kelana pada sesuatu yang fana.  Larut aku dalam rupamu, tenggelam aku dalam lisanmu, hilang aku dalam afsunmu. Aku terbentur rindu yang tak kunjung bertemu. Tak ada ruang yang tersisa hanya untuk kita berdua.. Gerak kita kian terbatas, waktumu yang kian menyempit, tak sebanding dengan banyaknya manusia yang ingin kau temui. Mungkin ia gadis lucu yang sekujur tubuhnya dibalut kain berwarna merah muda, atau ia yang pernah kau topang tubuhnya kala pingsan di tengah belantara. Kamu lupa aku, manusia yang menanti hadirmu walau tidak selalu. Apa aku ini terlihat terlalu kuat sampai...

Kamu, Bayangan Menyeramkan Itu.

      Aku masih hidup dalam perasaan yang tidak baik-baik saja. Entah masalah utamanya apa, banyak sekali yang aku pikirkan namun tentu kamu menjadi salah satu sumber masalah di dalamnya juga. Kamu manusia yang saat aku hilang pun tetap baik-baik saja, tidak ada alasan untuk khawatir. Untuk apa khawatir jika hidupnya gemerlap penuh dengan dekap. Aku sendiri disini sendirian, tersekap. Seiring diamku tabir yang menutupimu kian tersingkap, perlahan tampilkan kamu buaya kelas kakap. Bukan hanya kamu, namun juga kebenaran yang selama ini tersimpan dalam selubung keakraban dan sikap sok peduli. Ternyata tidak ada manusia yang benar-benar peduli, ia hanya ingin tau untuk dijadikan camilan bergosip atau jika tidak ya menjadi pembanding dengan hidupnya yang diam-diam juga menyedihkan. Ah dunia ini kian memuakkan saja, aku ingin pindah ke saturnus saja.      Malam ini aku baru saja menyelesaikan tugas uas ku. Aku lelah tapi enggan terpejam, aku takut akan bayangan y...

Alter Ego

      Setelah saat itu, dunia sudah tidak sama lagi. Aku merasa ada yang salah dengan diriku ini, aku kesulitan membedakan mana yang nyata dan halusinasi saja. Aku meresa mereka berpura-pura, tidak pernah benar-benar baik pada ku, senyum mereka palsu, hangatnya mereka menusuk menyayat. Jika bisa memutar waktu mungkin lebih baik aku tidak akan menginap di rumah itu. Jika bisa memutar waktu aku tidak akan membalas pesan itu dari awal, jika bisa memutar waktu aku ingin tidak menyambutnya dengan gembira, aku tidak akan pernah sudi menjadi tempat bersandarnya.      Ini jarang sekali terjadi, sebab dalam hal mencintai aku jarang sekali menyesali apa saja  yang telah ku perbuat untuknya, manusia yang ku cintai. Namun tidak saat aku jatuh cinta pada lelaki satu ini, aku menyesali atas semua yang telah ku lakukan di waktu dulu. Waktu saat aku memiliki harapan cerah tentang kita, waktu saat aku mengira semua baik baik saja dan kita berakhir bahagia. Aku tersadar...

Piringnya Patah

      Pagi ini aku terbangun, aku berangkat ke kampus seperti biasanya. Semua sama, tempat sampah kapusku tetap di tempat yang sama, bangku-bangku taman kampusku masih sama, teman-temanku rupa dan namanya masih sama, yang beda sekarang aku sudah tidak bersama dengan dia lagi. Yang beda, aku bukan miliknya lagi, yang beda dia bukan milikku lagi. Aku mencoba menghilangkan perasaan berat itu, aku hembuskan nafas dengan kasar berkali-kali berarap bebannya akan ikut hilang bersamanya, ternyata tidak. Kepalaku rasanya akan pecah, bayangan yang membentuk dia berputar-putar di kepala, tergambar saat aku dan dia sedang bersamanya tertawa di atas dua roda dan keliling kota, tergambar aku dan dia yang sedang menonton film bersama di ruang tamu kos ku, terbayang wajah lelahnya dan ia bersandar di bahu kiriku, entah kenapa saat aku membayangkan itu bahu kiriku ikut memberat, seolah dia ada di sampungku dan bersandar disana.      Sepulang dari kampus nafasku masih b...

huhft

     Hari ini kacau. Rencanaku tadi pagi sudah gagal, lalu mengantarkan aku pada seharian yang uring-uringan. Gagal sepedaan pagi ini karena hujan, lalu saat aku buka group chat ah tergambar kedekatan kalian yang jujur saja aku muak melihatnya, lalu ada kelas pagi sekali dan aku ngantuk, dilanjut aku presentasi di mata kuliah berikutnya, aku mendapat banyak sekali pertanyaan dan untuk hari ini itu terasa menyebalkan. Ditambah lagi obrolan kita yang ku rasa kian membosankan. Aku sangat tidak suka.      Hari ini aku ingin marah, saat aku sedang haus dan hendak minum namun air di galon sudah habis. Hari ini mengapa terasa kacau sekali? Semoga esok tak sekacau ini. Aku juga sedikit marah dengan diriku sendiri, kenapa aku ini terlalu serius.. selalu membawa fakta dan data saat mengobrol padahal aku tau aku sedang mengobrol dengan kamu, manusia yang jika diajak mikir dikit langsung mumet. Hari ini aku banyak menggerutu. 

Fana

      Kini kita semakin asing, aku menjadi tidak mengenalmu dengan baik seperti sebelumnya. Atau memang kita memang seharusnya begini? Lalu tugas apa yang tengah kita emban setelah kita dipertemukan? Karena aku percaya setiap pertemuan selain akan berpisah pada akhirnya, memiliki beban tugas yang harus dikerjakan. Tentu tidak untuk saling menyakitu bukan, sebab Tuhan lewat tangan semesta tidak sekejam itu.        Kamu kini tampak sibuk dengan dunia barumu sedang aku yang masih di lingkaran yang sama selalu mendamkanmu. Kamu yang sedang berlari cepat mengejar mimpimu kini aku tertinggal yang padahal sebelumnya aku ini menjadi manusia yang haus perubahan. Aku rusak, aku terkoyak karena diriku sendiri. Menjadi manusia yang mencintai manusia lainnya lalu setelahnya bisa begitu sangan membencinya sangat tidak menyenangkan.        Untuk kamu, tolong luluh agar kita dapat bersama atau beri tahu aku bagaimana cara memangkas harapanku padamu...

belum ada judul

Aku terkoyak, rubuh luluh lantak. Aku terhambur, hilang melebur Aku rusak, seluruhnya tak hanya sepetak Aku terjebur, tergulung ombak berdebur.  Dibawah teduh langit yang rindang bagi para gelandang  Aku menengadah memintamu untuk cepat pulang  Di tanah lapang yang luas di antara ilalang  Aku merebah menyerahkan diriku untuk kau cupang, telanjang 

selamat lebaran

 Selamat hari lebaran. Aku senang semalam kita menghabiskan malam takbir bersama. Tapi kamu tampak lelah, lesu, lunglai, anemia kah? Aku melihat kamu tampak sibuk dengan handphonemu, mungkin sibuk membalas belasan chat dari wanita-wanita lainnya. Saat ku tanya kabarmu, katamu kamu sedang tidak baik-baik saja. Setelahnya ku tanya mengapa, kamu tak mau cerita. Dan kamu benar, aku selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah kamu minta. Ah, aku yang menyedihkan.        Untuk kamu manusia yang selalu diharapkan datangnya oleh siapa saja, entah apa yang membawaku pada perasaanku yang dulu, aku kembali sedang kamu mulai beranjak pergi. Aku jadi lebih sering membencimu, lalu setelahnya aku mencintaimu. Aku jadi sibuk merutukimu, lalu setelahnya aku memikirkanmu dan itu sangat mengganggu.        Hari ini, kamu melewatkan sholat ied sepertunya sebab pukul delapan kamu baru saja terbangun, dan seperti biasa kamu telat membalas pesan dariku. Aku mulai jen...

selamat, ini tahunmu.

    Ini khusus buat kamu. Sepertinya ini menjadi tahunmu ya, tahun ini kamu mendapat kerja, tahun ini kamu bertambah berat badannya, tahun ini tulisan tentangmu menjadi most popular tulisan di blogku. Ah yang point terakhir sepertinya tidak begitu penting sih hehe. Semoga hal-hal baik lainnya datang padamu juga padaku, aamiin. Walau awal tahunku kali ini terasa berat, tapi tidak akan ku ceritakan disini, mungkin di bagian lainnya karena saat ini aku hanya akan mengulas tentang kamu saja.  Tapi di tengah bahagiamu, di tengah cemerlangmu saat ini aku benci padamu. Aku merasa kamu sudah tidak menyenangkan lagi, aku juga merasa kamu lebih dekat dengan temanku ketimbang denganku. Iya aku sangat tahu seharusnya cemburu tidak ada dalam cerita ini tapi aku merasakannya. Aku jadi ingin membakar ia, temanku yang selalu dekat denganmu.        Aku juga sebentar-sebentar sayang padamu, sebentar-sebentar aku membencimu dengan hebat, lalu disaat yang lainnya aku begi...

Gagal ke Amerika

    Pada salah satu tahun dalam hidupku dan untuk pertama kalinya aku melakukan pacaran online lewat salah satu aplikasi. Waktu itu tahun 2019 tahun aku lulus SMA dan hendak masuk kuliah. Lewat aplikasi tersebut, aku bertemu dengan lelaki berkebangsaan Amerika. Singkat kita mengobrol, lalu ia menyatakan perasaannya jika ia cinta kepadaku. Aku yang saat itu tengah merasa sepi dan memang jomblo sudah lama, akhrinya akupun menerimanya. Selain itu aku merasa ia ini berbeda, ia selalu mengerti keadaanku dan tidak pernah memaksaku untuk melakukan ini dan itu.        Aku menjalani hari-hari beratku karena baru saja berpisah dengan cinta masa SMA ku ditemani oleh dia. Aku juga bercerita tentang perasaanku dengan temanku kepada dia. Dan dia tampak bisa menerima dan selalu menguatkan aku. Komunikasi kita juga tidak intens karena perbedaan waktu yang cukup banyak serta kemampuan bahasa inggrisku yang pas pasan bahkan buruk ini menjadi kendala dalam berkomunikasi....

Suatu siang di bulan April

      Siang hari di bulan April terasa lebih panas dari biasanya, Terasa lebih cerah saat aku mendapat pesan singkat dari kamu, manusia yang selalu di kepalaku. Aku senang karena kita tetap baik sejauh ini. Aku senang karena masih sempat berbicara denganmu lagi tahun ini. Ingatkah kamu, bulan April tahun lalu kita juga berbicara bertukar kabar. Dan aku juga senang kala itu. Namun rasa senangku kali ini terasa berbeda, aku memaknai senang kali ini dengan senang karena bisa mengobrol lagi bersama teman lama, mengobrol lagi dengan manusia yang dulu selalu ingin ku peluk tubuhnya. Aku sudah berbeda Rap. Aku sudah mulai bisa menerima jika bahagiamu tidak seputar aku. Aku sudah rela, dan tidak akan memaksa seperti aku yang dulu.        Sepertinya kamu baik-baik saja ya Rap, aku berharap semoga kita bisa bertemu kali ini. Aku sudah lama tidak menatap mata minimalismu dan tubuh jangkungmu. Aku juga sudah lama tidak berbicara tentang apa saja padamu, aku sudah ...

Kamu Maunya Apa?

      Aku hampir tidak mengenali hubungan ini. Dulu kita yang bisa berbicara tentang apa saja, kini kita hanya berbicara tentang cuaca. Satu lagi, bertanya tentang aktivitasku. Kamu tau kan jika aku tidak suka dengan obrolan itu. Aku hampir tidak pernah berbicara sambil memandang wajahmu kala kita bertemu. Bahkan memang kita hampir tidak pernah berbicara saat sedang bertemu. Aku hampir tidak mengenali kita yang sekarang.       Mungkin ini memang waktunya kita sudah kadaluwarsa. Kita sudah tidak segar lagi, kita sudah tidak renyah lagi. Coba mengambil jarak, renungi apa yang sebenarnya terjadi, agar kita tau akan bagaimana kita nanti. Tapi lagi-lagi, kamu selalu menunda-nunda semua. Kamu terlalu lambat untukku yang selalu haus perubahan. Sikapmu yang kurang tegas mengambil langkah membuat aku jengah. Memang manusia tidak bisa menuntun manusia lainnya berubah, namun jika itu menjadikannya lebih baik kenapa tidak?        Kamu ini.. lelaki y...

aku pamit ya...

  Berlalu seperti biasanya, seharian hujan dan aku tetap di rumah saja. Hujan, menggagalkan janji bertemu. Namun bukan berarti di tengah terik mentari janji temu tak pernah gagal. Sejauh ini aku cukup mampu melihatmu dengan jelas. Kepingan peristiwa dan desas desus namamu kini mulai membentuk sosok kamu. Namun lagi-lagi, aku manusia yang kerap mencintai manusia lainnya dengan keras kepala, aku masih saja mencari celah baikmu. Sungguh aku tak ingin memandangmu seperti manusia kebanyakan memandangmu.        Kamu, kamu, kamu lagi. Mengapa bisa selucu ini, semesta memang sedang bercanda. Ini semua lucu, tapi aku menangis. Aku meminta waktu satu hari lagi pada semesta, siapa tau kamu datang. Temanku bilang ini harusnya disudahi, temanku yang lainnya berkata cobalah sekali lagi. Mereka tak pernah merasakan indah sekaligus menyesakkan saat jatuh hati padamu.        Katakan, katakan saja langsung bagaimana caranya menjadi pemeran utama dalam hid...

Akhirnya Lupa

      Kini telah sampai pada akhirnya peristirahatan paling mulia, lupa. Telah pada sampai akhirnya lembar terakhir yang ku tuliskan untuk kamu, lelaki yang tak mencintaiku. Kini biarkan aku terbang, pergi namun aku tidak akan hilang. Sesekali aku akan muncul ke permukaan hanya untuk memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Memang benar aku tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kamu dan kamu tidak pernah benar-benar sendiri. Ah kamu memang selalu merepotkan sejak awal kita bertemu.        Kamu akan tetap abadi dalam imaji, kamu tetap indah dalam cerita, kamu akan tetap cemerlang dalam kegelapan lautan. Tapi tidak, aku tidak akan menguncimu dalam ingatan. Tulangku sudah patah, sudah tidak kuat menanggung berat rindu yang selama ini ku tabung. Celengan rindu yang tidak pernah ku pecahkan setelah perpisahan itu.        Terimakasih sudah sudi menemaniku melewati masa-masa gelap kehidupan, terimakasih sudah selalu memeriahkan s...

Benang Merahmu

      Hari ini aku lelah setelah seharian tertawa. Malamnya aku memaksa diriku untuk  menangis. Agar seimbang saja antara kesedihan dan kebahagiaan. Hari ini aku dan kamu tidak banyak bicara. Aku sibuk dengan duniaku, dan kamu entah sibuk melakukan apa. Memang seharusnya kita memang begitu kan,  Malam ini malam minggu, dan kita tak bertemu. Malam ini tidak hujan, cerah walau tak berbintang, tapi kamu tidak pergi ke rumahku. Aku juga  tidak menunggu.        Hari ini kita tidak banyak bicara, dan aku tidak tau pasti bagaimana kabarmu. Semoga kamu baik-baik saja. Kabar terakhir darimu katanya kamu lapar dan aku menyuruhmu untuk makan. Memang kadang kita selucu itu, saat lapar bukannya makan malah saling bertukar kabar. Entah kamu begitu hanya padaku saja atau ada manusia lain berjenis kelamin wanita lainnya juga. Dan aku yakin dengan sempurna jika aku bukan satu-satunya.         Aku sempat ingin hilang dari hadapanm...

Sejati tapi tak sehati

      Tadi adalah kali pertama kamu duduk di kursi itu lagi setelah malam tahun baru. Duduk di kursi ruang tamu rumahku, berbincang sejenak sebelum kamu berangkat untuk menginap melihat bintang bersama kawanmu. Itu rekor pertama setelah tiga bulan kamu tak duduk di sudut sana. Sudut yang selalu ku pandangi kala aku sendiri duduk di ruang tamu, entah untuk menantimu atau tidak.       Aku mulai luluh, lagi. Padamu. Aku benci perasaan ini, perasaan menyenangkan setiap mengingatmu, perasaan gelisah saat kamu telat membalas pesan singkatku. Aku benci saat tiba-tiba pikiranku kau kudeta. Aku benci segala aktivitas yang mendekatkan padamu, aku juga benci saat menerima kenyataan jarak terbangun diantara aku dan kamu. Bukan kita, tetap aku dan kamu dua manusia asing tidak bersama.       Teman sejati, namun tidak sehati. Hatiku sibuk untuk membencimu separuhnya jatuh karenamu. Sedang entah hatimu berisi dan terdiri dari apa saja. Mungkin terisi dia si ...

Februari Sore Hari

     Pada akhir Februari saat sore hari. Aku semakin yakin jika aku nothing atasmu. Aku semakin percaya jika kemarin aku telah melakukan kesalahan yang tak biasa. Kesalahan yang mengantarkan aku pada kesakitan kini. Suatu hari di sore yang mendung, di kedai minuman milikmu aku bersama kawanku berkunjung. Aktivitas yang akhir akhir ini ingin sekali ku hindari. Ingin berkata tidak pada setiap ajakan sungguh aku tak sampai hati.       Naif, kata yang tepat menggambarkan aku kini. Dengan lugunya aku percaya jika kamu akan datang padaku entah kapankah itu. Aku jatuh cinta pada kemungkinan-kemungkinan tentang dirimu terhadapku. Aku jatuh cinta pada khayalan jika kamu akan selalu ada di setiap sepiku, setiap laraku, setiap mataku mengedip kamu tetap ada disana. Aku jatuh cinta pada kemungkinan "kalau kamu juga mencintaiku".       Kembali pada suatu sore mendung di akhir bulan februari. Mataku melihat kedekatanmu dengan kawanku. Setelah sel...

Hilang

Kemarin aku menemukanmu dalam keadaan bahagia. Namun tidak pada hari berikutnya. Kamu putus cintanya dengan dia. Tertawa bersama sampai aku tak tau kamu sedang terluka. Melangkah bersama aku kira aku dan kamu ini kita, ternyata kamu masih kepadanya dan aku tetap pada kesendirian. Kemarin aku dan kamu bicara tentang semua, meluruskan apa yang selama ini bengkok di mataku. Gempita di hati seketika sunyi, walau sebelumnya sorai sedih mulai menggema.  Aku memutuskan untuk beranjak pergi, namun aku sendiri yang kembali lagi. Berkali aku mengecek last seen di akun chat itu, berkali aku membuka room chat kalau-kalau kamu sudah membalasnya dan aku tak tau, upayaku membisukan notifikasi chatmu terasa sia-sia kini. Namun tidak dengan seminggu yang lalu, aku merasa bisa hidup tanpamu, bisa tidak dengan segera menyambut pesanmu. Namun tidak setelah bertemu denganmu setelah kejadian itu, namun tidak setelah kamu menepuk dahiku karena ada nyamuk disana, tidak setelah aku selalu sibuk memikirkan ...

Dua Hari Tentang Kamu

 Hari ini hujan turun sejak siang tanpa henti. Membuat kamu tetap di rumah untuk bersembunyi. Hari ini kita tidak bertemu. Aku mulai menulis ini saat masih siang saat hujan, yang saat ini kamu sedang mengamplas gitar. Dan aku sibuk menyusun program kerja untuk organisasi kampusku. Menyenangkan sekaligus menyesakkan. Aku senang kita masih saling ingat disetiap kesibukan, sekaligus sedih memngingat kamu bisa saja pergi dan abai. Jika ini berakhir, aku bersumpah itu yang mengakhiri adalah kamu. Sebab aku tidak akan pernah mudah beranjak dari tempat yang sudah ku anggap rumah.  Aku dengar kamu jarang membaca buku, untuk menambah wawanmu aku akan memberi tau kamu tentang suatu informasi, "aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu". Aku hanya memberi tau saja sih masalah kamu membalas atau tidak itu bukan urusanku. Sebab aku sadar jika aku bukan orang yang kamu nanti. Sebab aku tau, isi kepalamu dan semua semestamu tidak milikku.  Aku masih menantikan akhir bahagia, walau nant...

Untuk Dua Teman Lelakiku

 Hari ini, salah satu temanku kehilangan ibundanya, memang usia tak ada yang tau. Namun aku tadi lihat syauqi tampak tegar dan baik-baik saja.. ya aku tau sedihnya pasti tak akan dilihatkan kesiapapun juga. Syauqi lelaki yang baik, ia sayang ibunya. Tipikal lelaki idaman, lelaki yang sayang pada wanita nomor satu dalam hidupnya, ibunda. Namun untuk jatuh hati lagi padanya ah aku sudah.  Sore tadi Syauqi dengan sarung motif warna biru tersenyum canggung menyambut aku dan kedua temanku. Senyumnya terkembang, namun matanya tetap sayu. Walau aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena mataku minus dan aku tidak memakai kacamata.  Syauqi, jadilah tabah ya. Awal tahun ini mungkin memang berat untukmu tapi aku tau kamu pasti bisa melewatinya. Kamu lelaki, kelak sendiri jadilah berani. Doakan ibumu selalu, beliau bangga punya kamu.  Lalu di kepingan cerita lainnya, hari ini aku tak bertemu denganmu, lelaki yang biasa ku panggil patah. Sore tadi aku melakukan kesalahan, membu...

Dari Wanita yang Minus Matanya

Hari ini aku pergi ke suatu tempat yang tinggi. Tempat antah berantah yang sebelumnya belum pernah ku pijaki. Aku bersamamu, dan satu temanku. Sebetulnya aku ingin duduk di belakangmu sambil memeluk pinggangmu bersama menembus kabut dingin. namun aku tak bisa, karena harus menemani seorang temanku. Kamu masih tampak seperti biasanya, lagi lagi secara kebetulan kita sama sama pakai baju hitam hanya saja aku memakai celana biru jeans. Pesonamu masih sama saat kamu memetik gitar. Aku tetap memandangimu walau sebetulnya blur karena mataku minus dan aku tak pakai kacamata.  Kita tadi tak banyak bicara, hanya kamu yang menyuruhku memakai jaket jeansmu karena aku waktu itu kedinginan. Kita tak banyak bicara, hanya tadi kamu memberi tau meminjam jaket hitamku seusai aku sholat magrib.  Hari ini aku bertemu denganmu. Di tempat yang tinggi dan tak terjamah. Aku masih memandangimu dengan sama seperti biasanya walaupun wajahmu tampak blur karena mata minusku. Hari ini kita bertemu, dan me...