Gaung Pilu
Kepada kita yang dipersatukan oleh debu jalanan. Ada hasrat tersirat sejak tangan kita saling menjabat. Disaat pagi belia hadir diantara kita, aku dan kamu menjelma menjadi insan yang berdosa. Lunar jadi saksinya, melihat dengan penuh duka. Kita, manusia yang bertahan di tengah ke khilafan. Lalu kita ini apa? Sepertinya memang lebih baik begini, sebab dalam bias lebih bisa dirasakan. Lalu kini kita telah selesai. Duka mulai mengurai. Hati sibuk mengingkari nyata yang mengetuk mata. Perasaan dalam bias yang lalu kini hanya omong kosong. Sekarang kita saling memberi makan pada rindu, saling beradu rasa cemas, dan berlomba untuk meraih bahagia. Aku pun kini tidak tau harus melakukan apa selain mencumbu bayangmu yang kini tersapu sadarku. Musik yang mengalin dari speaker semberku terus mengalun seiring sepi yang menghujamku. Kehilanganmu adalah suatu kenyataan yang harus ku hadapi kala itu. Walau kala itu aku juga tak tau harus bagaimana untuk bertahan hidup. Aku seperti b...