Kamu Maunya Apa?
Aku hampir tidak mengenali hubungan ini. Dulu kita yang bisa berbicara tentang apa saja, kini kita hanya berbicara tentang cuaca. Satu lagi, bertanya tentang aktivitasku. Kamu tau kan jika aku tidak suka dengan obrolan itu. Aku hampir tidak pernah berbicara sambil memandang wajahmu kala kita bertemu. Bahkan memang kita hampir tidak pernah berbicara saat sedang bertemu. Aku hampir tidak mengenali kita yang sekarang.
Mungkin ini memang waktunya kita sudah kadaluwarsa. Kita sudah tidak segar lagi, kita sudah tidak renyah lagi. Coba mengambil jarak, renungi apa yang sebenarnya terjadi, agar kita tau akan bagaimana kita nanti. Tapi lagi-lagi, kamu selalu menunda-nunda semua. Kamu terlalu lambat untukku yang selalu haus perubahan. Sikapmu yang kurang tegas mengambil langkah membuat aku jengah. Memang manusia tidak bisa menuntun manusia lainnya berubah, namun jika itu menjadikannya lebih baik kenapa tidak?
Kamu ini.. lelaki yang sepertinya menerapkan konsep tebar jala dalam hidupmu. Gemar menyebar namun enggan menuai, hah untuk apa? Memang kamu tak pernah menjanjikan untuk bersama namun sikapmu seolah meminta untuk tetap disana. Mau mu apa? Lalu, bolehkan aku meminta agar kamu pergi dengan cepat? Akan aku berikan infromasi saja kepadamu tentang apa yang terjadi pada lelaki terdahulu yang dekat padaku. Jika memang tidak bisa bersama hanya ada dua pilihan, tetap berteman saja atau tidak lagi saling menyapa. Banyak yang akhirnya berteman, ada pula yang tidak lagi saling menyapa. Jadi, ayo kita berteman (lagi?) dengan baik dan benar. Jangan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan dengan teman. Jangan menyentuh hidungku lagi dengan manja saat kita berjumpa. Jangan lagi kecup bibirku saat kita berdua. Jangan. Teman tidak melakukan hal-hal seperti itu.
Dan, satu lagi. Untuk menjalin pertemanan kamu harus siap dihadapkan pada keadaan pesanmu tak ku balas lagi. Kehidupanku tidak selalu untuk membalas pesan singkat dari teman-temanku. Ah iya, kamu juga perlu tau manusia yang pesannya selalu ku balas berarti ia sudah memiliki duniaku. Lalu kini duniaku sudah bukan milikmu lagi, jadi jangan marah saat pesanmu tidak ku balas lagi. 24/7 ku bukan lagi milikmu. Sepertinya pilihan untuk kita tidak saling menyapa lagi itu berlebihan. Lalu kini hanya ada dua pilihan, kamu bersamaku atau kita berteman saja. Oh sayang, hidup memang tentang memilih. Lelaki harus tegas dan bersikap baik. Lelaki harus berani, tapi tak apa jika lelaki menangis.
Sudah, aku sudah lelah memikirkan hal yang itu-itu saja. Ah iya, tadi malam aku bermimpi aku mendapat kekasih, lalu kamu kehilangan dua diantara banyaknya wanitamu. Ah semoga saja mimpiku menjadi nyata.
Comments
Post a Comment