Sejati tapi tak sehati

     Tadi adalah kali pertama kamu duduk di kursi itu lagi setelah malam tahun baru. Duduk di kursi ruang tamu rumahku, berbincang sejenak sebelum kamu berangkat untuk menginap melihat bintang bersama kawanmu. Itu rekor pertama setelah tiga bulan kamu tak duduk di sudut sana. Sudut yang selalu ku pandangi kala aku sendiri duduk di ruang tamu, entah untuk menantimu atau tidak.
     Aku mulai luluh, lagi. Padamu. Aku benci perasaan ini, perasaan menyenangkan setiap mengingatmu, perasaan gelisah saat kamu telat membalas pesan singkatku. Aku benci saat tiba-tiba pikiranku kau kudeta. Aku benci segala aktivitas yang mendekatkan padamu, aku juga benci saat menerima kenyataan jarak terbangun diantara aku dan kamu. Bukan kita, tetap aku dan kamu dua manusia asing tidak bersama.
     Teman sejati, namun tidak sehati. Hatiku sibuk untuk membencimu separuhnya jatuh karenamu. Sedang entah hatimu berisi dan terdiri dari apa saja. Mungkin terisi dia si masalalu separuhnya wanita-wanita yang sukarela kau tundukkan. Untuk kamu tidak ada yang mengharuskanmu untuk mengerti jika aku merindukan kamu. Aku cukup lihai mengunci rindu rapat-rapat pada lorong hitam itu, aku akan melebur bersamanya.
     Senyum di bibirmu kini mulai merekah, semoga kamu akan tetap begitu selamanya. Aku juga selalu berdo'a agar aku dan kamu dipanjangkan usianya agar masing masing dari kita dapat melihat kebahagiaan satu dan lainnya. Jika diijinkan, semoga dapat bahagia bersama. Aku akan rela menghabiskan usia untuk menunggu kau datang, lalu kita kembali bernyanyi bersama dan aku melukiskan indah wajahmu lewat kata. Atau bisa saja selamanya salah satu dari kita hanya mampu memandangi dari jauh tanpa memiliki salah satu dari kita, entah aku atau kamu. Tak ada yang tau.
     Saat aku sendiri di lorong yang gelap, aku berjalan meniti setiap meternya. Seketika cahaya lampu menyorot, aku melihatmu berdiri mengulurkan tangan mengajak ku menari. Kita menari diikuti cahaya lampu menyinari. Kita menari, menari, tersenyum, mata kita beradu, lalu memeluk. Saat ku kedipkan mata, ternyata hanya aku sendiri disana di tengah lorong yang gelap. Aku sendirian menari,aku sendirian memeluk diriku sendiri. Kamu tidak ada. Kamu tidak ada.
     Bagaimana jika hari ini aku ikut denganmu berkelana, apakah kejadian kemarin akan terulang lagi. Bagaimana jika aku tidak tau jika selama ini hanya aku yang cinta sendiri, apa aku tetap akan mengirimi mu puisi setiap pagi. Bagaimana jika aku tak tau ternyata begitu banyak wanita yang ternyata di dekatmu, apa aku akan tetap merasa akulah satu-satunya yang kamu punya. Bagaimana jika aku tak tau jika ternyata aku tidak satu-satunya, apa aku akan tetap memberikan semua padamu, untukmu. Bagaimana jika... ternyata kamu juga merasakan apa yang aku rasa, apa kita bisa bersama. 
        

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis