Dua Hari Tentang Kamu
Hari ini hujan turun sejak siang tanpa henti. Membuat kamu tetap di rumah untuk bersembunyi. Hari ini kita tidak bertemu. Aku mulai menulis ini saat masih siang saat hujan, yang saat ini kamu sedang mengamplas gitar. Dan aku sibuk menyusun program kerja untuk organisasi kampusku. Menyenangkan sekaligus menyesakkan. Aku senang kita masih saling ingat disetiap kesibukan, sekaligus sedih memngingat kamu bisa saja pergi dan abai. Jika ini berakhir, aku bersumpah itu yang mengakhiri adalah kamu. Sebab aku tidak akan pernah mudah beranjak dari tempat yang sudah ku anggap rumah.
Aku dengar kamu jarang membaca buku, untuk menambah wawanmu aku akan memberi tau kamu tentang suatu informasi, "aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu". Aku hanya memberi tau saja sih masalah kamu membalas atau tidak itu bukan urusanku. Sebab aku sadar jika aku bukan orang yang kamu nanti. Sebab aku tau, isi kepalamu dan semua semestamu tidak milikku.
Aku masih menantikan akhir bahagia, walau nantinya akan berpisah juga. Sesuatu yang aku takutkan sekaligus sesuatu yang tak bisa ku elak. Aku hanya ingin kamu mencoba untuk lebih mencintaiku dan aku akan melipatkan semua bahagiamu. Bagaimana? Sekeras kamu mencoba, sekeras itu pula aku berusaha menjauhkan tangis kesedihan darimu. Selama itu pula apa yang kamu impikan aku juga memimpikan dan akan selalu aku usahakan.
Sebentar, mungkin aku akan tampak aneh di matamu. Sebab selama ini kamu menganggapku teman sedang aku sudah menganggap kita ini satu. Selamanya akan seperti ini kah? Aku tau penolakan terhalus adalah saat kamu berkata belum akan membuka hati lagi sebab memang aku tidak cukup menggetarkan hatimu. Aku ingin tau setiap kata sedihmu, setiap lukamu mengiringi tanyaku tentang kapankah kamu jadi milikku.
Lalu malamnya kita bertemu, tak seperti biasanya kamu memakai celana panjang olahraga, dan jaket saja. Tidak necis seperti biasanya. Katamu kamu baru saja pergi bersama teman sekolahmu dulu, menjemputnya dari tempat kerjanya lalu makan sore. Tak apa, itu tidak cukup untuk membuat semestaku porak poranda seperti kemarin.
Malamnya kita bertemu di rumah seorang kawan. Lagi-lagi kita sedikit bicara karena kamu banyak bernyanyi. Aku yang memiliki suara yang sumbang lebih banyak diam, enggan merusak panggung tongkrongan. Lalu pukul delapan atau sembilan malam kita pulang. Sesampainya di rumah aku tak seperti biasanya yang langsung menghubungimu. Jujur saja aku sedang ingin mengurangi intensitas kita bicara namun kenapa masih saja tak bisa.
Lalu hari berikutnya, kamu pergi bersama ibunda berkeliling kota. Lalu setelahnya kamu menyambangi eyang tercinta. Selepas itu kamu pergi ke taman seperti biasa, dan pergi ke counter hp katamu kamu mau menjual hpmu. Sedang butuh uang, sambungmu. Kabar terakhir yang aku tau kamu hendak menjual tas punggungmu, memang sudah dari dulu ingin menjualnya katamu. Semoga semua lekas laku, doaku. Semoga citamu lekas sampai doaku lagi. Semoga kita bertahan lama dalam suatu kejelasan yang indah doaku selalu.
Comments
Post a Comment