Alter Ego
Setelah saat itu, dunia sudah tidak sama lagi. Aku merasa ada yang salah dengan diriku ini, aku kesulitan membedakan mana yang nyata dan halusinasi saja. Aku meresa mereka berpura-pura, tidak pernah benar-benar baik pada ku, senyum mereka palsu, hangatnya mereka menusuk menyayat. Jika bisa memutar waktu mungkin lebih baik aku tidak akan menginap di rumah itu. Jika bisa memutar waktu aku tidak akan membalas pesan itu dari awal, jika bisa memutar waktu aku ingin tidak menyambutnya dengan gembira, aku tidak akan pernah sudi menjadi tempat bersandarnya.
Ini jarang sekali terjadi, sebab dalam hal mencintai aku jarang sekali menyesali apa saja yang telah ku perbuat untuknya, manusia yang ku cintai. Namun tidak saat aku jatuh cinta pada lelaki satu ini, aku menyesali atas semua yang telah ku lakukan di waktu dulu. Waktu saat aku memiliki harapan cerah tentang kita, waktu saat aku mengira semua baik baik saja dan kita berakhir bahagia. Aku tersadar tepat pada penghujung tahun lalu, penghujung tahunku porak poranda, setiap malam niat ku tertidur malah terjaga. Bayangan-bayangan mengerikan itu mulai hinggap di kepala, hingga menciptakan dunia yang mengerikan.
Mulai saat itu aku lihai sekali menerka dosa orang lain, mulai saat itu aku jadi akrab sekali dengan prasangka buruk kepada orang lain, mulai saat itu aku kian fasih mengumpat, mengucapkan sumpah serapah kepada sesama. Duniaku hancur, matahariku padam setelah ku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan segera terbang, terbang entah kemana. Aku kalang kabut mencari sumber dopamine, aku sakaw saat tiba tiba bahagiaku tercabut. Duniaku gelap. Sepi. Mengerikan.
Kesakitan kesakitan berikutnya menyapa, sampai aku kebal namun aku sakit. Aku kini tetap hidup, namun dengan terlunta-lunta dengan tidak mempercayai kebaikan manusia lainnya. Aku benci dunia beserta manusia seisinya.
Comments
Post a Comment