Benang Merahmu
Hari ini aku lelah setelah seharian tertawa. Malamnya aku memaksa diriku untuk menangis. Agar seimbang saja antara kesedihan dan kebahagiaan. Hari ini aku dan kamu tidak banyak bicara. Aku sibuk dengan duniaku, dan kamu entah sibuk melakukan apa. Memang seharusnya kita memang begitu kan,
Malam ini malam minggu, dan kita tak bertemu. Malam ini tidak hujan, cerah walau tak berbintang, tapi kamu tidak pergi ke rumahku. Aku juga tidak menunggu.
Hari ini kita tidak banyak bicara, dan aku tidak tau pasti bagaimana kabarmu. Semoga kamu baik-baik saja. Kabar terakhir darimu katanya kamu lapar dan aku menyuruhmu untuk makan. Memang kadang kita selucu itu, saat lapar bukannya makan malah saling bertukar kabar. Entah kamu begitu hanya padaku saja atau ada manusia lain berjenis kelamin wanita lainnya juga. Dan aku yakin dengan sempurna jika aku bukan satu-satunya.
Aku sempat ingin hilang dari hadapanmu. Tapi aku tak bisa, takut nanti rindu. Aku tak bisa, takut nanti malah kamu yang hilang. Aku tidak seberani itu untuk melangkah, aku juga tak semudah itu untuk menyerah. Aku ingin bahagia bersamamu, namun aku juga ingin bisa hidup tanpa bayang-bayangmu. Sayangnya, aku tak pernah ingin membencimu. Seperti kamu yang tak pernah mau mencoba untuk mencintai aku.
Kita dua sepadan yang dipertemukan, mungkin memang hanya untuk bertemu bukan untuk disatukan. Walau aku merasa kamu hanya satu. Bagiku kamu baru, namun tiba-tiba menghilang. Menurutku kamu itu berisik, namamu nama yang ramai. Namamu nama yang terbakar di kepalaku. Namamu nama yang satu di hatiku. Kamu, manusia yang aku tidak pernah benar-benar tau rimba pikirmu pula hatimu.
Sudah, aku ingin sudah. Aku mulai jengah, namun aku tetap tak ingin menyerah. Kadang aku marah, kadang aku memerah. Aku bisa menjadi apa saja karenamu, kamu. Kepada kamu manusia yang tak pernah tau menau tentang aku. Tolong beri tau bagaimana aku berpikir untuk membencimu, sebab aku tak pernah sekalipun terlintas membenci sosokmu. Seperti kamu yang tak pernah berpikir untuk mencoba mencintaiku.
Makin larut makin hanyut aku dibuatmu. Kamu manusia tak miskin kata, anggun perbuatannya. Tapi tetap aku tak tau menau tentang bagaimana tabiatmu sebenarnya. Bukankah setiap manusia pandai berpura pura? Begitu pula aku yang selalu berpura-pura untuk menjadi baik-baik saja di hadapanmu, atau di beberapa situasi lainnya yang membuatku tidak baik baik saja, aku akan tetap tersenyum selama aku sedang di hadapanmu. Aku tidak mau kamu melihatku menangis. Tidak. Sekali-kali tidak.
Comments
Post a Comment