Gaung Pilu
Kepada kita yang dipersatukan oleh debu jalanan. Ada hasrat tersirat sejak tangan kita saling menjabat. Disaat pagi belia hadir diantara kita, aku dan kamu menjelma menjadi insan yang berdosa. Lunar jadi saksinya, melihat dengan penuh duka. Kita, manusia yang bertahan di tengah ke khilafan. Lalu kita ini apa? Sepertinya memang lebih baik begini, sebab dalam bias lebih bisa dirasakan.
Lalu kini kita telah selesai. Duka mulai mengurai. Hati sibuk mengingkari nyata yang mengetuk mata. Perasaan dalam bias yang lalu kini hanya omong kosong. Sekarang kita saling memberi makan pada rindu, saling beradu rasa cemas, dan berlomba untuk meraih bahagia. Aku pun kini tidak tau harus melakukan apa selain mencumbu bayangmu yang kini tersapu sadarku.
Musik yang mengalin dari speaker semberku terus mengalun seiring sepi yang menghujamku. Kehilanganmu adalah suatu kenyataan yang harus ku hadapi kala itu. Walau kala itu aku juga tak tau harus bagaimana untuk bertahan hidup. Aku seperti banteng yang ditutup matanya, berlarian kesana kemari, menabrak apa saja yang ada di hadapanku. Tak peduli seberapa banyak yang rusak, tak peduli seberapa banyak yang terluka.
Pada hari selanjutnya, aku mulai lelah nafasnya menipis. Mataku terpejam, bayang-bayang kebersamaan makin nyata. Tubuhku terselimuti hangat halusinasi, dipeluk ekspektasi alpha kepastian. Aku, kembali mamang, hilang arah, mabuk, dan kehilangan lagi. Aku, hancur untuk kesekian.
Biarkan, aku membiarkan tubuhku tetap disana agar dapat merasakan hadirmu disini. Aku, hilang lagi.
Selanjutnya, aku membuang semua kenangan indah. Kenangan yang tiada lagi berguna. Tak ada yang bisa digunakan selain menyakiti diri sendiri yang sudah lapuk separuh ini. Semua kejadian yang lalu, biarlah tetap menjadi tragedi yang ku kenang kini dengan hati yang merasa itu semua penuh dusta. Setelah kita berpisah sekian lama, berputarlah langit, dan kamu datang lagi.
Jalanku mulai terjal dan berliku, cerita hanya sedih yang ada, hanya benci yang tertinggal selamanya. Kamu, hartaku yang hilang, salahku salahmu dan kecewa. Hanya aku. Lalu aku menertawakan semua yang terjadi, melupakan semua, HA HA HA HA.
Comments
Post a Comment