Untitled
Sudah terlanjur. Aku terlanjur menawarkan, terlanjur mengiyakan. Sampai akhrinya kita berpasangan. Selalu seperti katamu, udah terlanjur mau gimana lagi. Berulang kali pemakluman terkabulkan atas semua tingkah keparatmu. Menjadi keparat memang semudah menjadi kamu, yang selalu alpa logika lupa hatinya dimana. Sialnya aku telah memutuskan hidup bersama pecundang. Pecundang yang bangsat pula. Bodohnya aku masih menerima hanya karena ia tak buruk rupa. Tunggu, tunggu saja. Aku selalu ingin balas dendam. Kala bersamamu adalah sebuah pilihan maka aku juga dapat memilih untuk berjalan mengganti tujuan. Ternyata ada yang sama sulitnya dengan menyatukan dua agama yang berbeda, yaitu menyamakan tingkat berpikir yang berbeda. Kala bersamamu aku terpaksa mengkerdilkan duniaku, menyempitkan pandanganku, hanya seluas dan selebar pola pikirmu. Mendefinisikan keindahan hanya sepanjang alismu. Kala pasangan lain menjadikan lagunya dewa 19 untuk anthem kisah cintanya, aku memilih lagu matram...