Piringnya Patah

     Pagi ini aku terbangun, aku berangkat ke kampus seperti biasanya. Semua sama, tempat sampah kapusku tetap di tempat yang sama, bangku-bangku taman kampusku masih sama, teman-temanku rupa dan namanya masih sama, yang beda sekarang aku sudah tidak bersama dengan dia lagi. Yang beda, aku bukan miliknya lagi, yang beda dia bukan milikku lagi. Aku mencoba menghilangkan perasaan berat itu, aku hembuskan nafas dengan kasar berkali-kali berarap bebannya akan ikut hilang bersamanya, ternyata tidak. Kepalaku rasanya akan pecah, bayangan yang membentuk dia berputar-putar di kepala, tergambar saat aku dan dia sedang bersamanya tertawa di atas dua roda dan keliling kota, tergambar aku dan dia yang sedang menonton film bersama di ruang tamu kos ku, terbayang wajah lelahnya dan ia bersandar di bahu kiriku, entah kenapa saat aku membayangkan itu bahu kiriku ikut memberat, seolah dia ada di sampungku dan bersandar disana. 
    Sepulang dari kampus nafasku masih berat, sesak. Ternyata usahaku melupakannya dengan tertawa bersama teman-temanku tadi tidak sepenuhnya bekerja. Tawaku paling kencang, berharap beban itu berguguran seiring tubuhku tergucang tawa, ternyata tidak. Nafasku masih berat, langkahku terasa melayang, langsung ku jatuhkan tubuhku di kasur kamar kos ku. Aku terisak lagi. Sampai malam. Lalu pukul delapan aku keluar kamar untuk makan, ku ambil piring dari rak. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba piring itu terjatuh dari tanganku. Piring itu pecah menjadi kepingan beling, berserakan. Dengan tatapan yang kosong aku memunguti setiap keping itu kedalam kantong plastik. Aku tidak jadi makan, dan kembali masuk ke dalam kamar. Aku tertidur lagi. 
    Di tengah tidur kerongkonagnku terasa sangat kering. Dengan mata yang masih sembab karena aku menangis lagi sebelum tidur tadi aku melangkah keluar kamar menuju kulkas untuk mengambil air minum. Ku teguk dengan kasar air dingin itu, berharap dinginnya dapat membekukan luka hatiku. Setengah botol habis ku teguk, sakitnya masih terasa dan cara itu tak berhasil. Saat hendak melangkah lagi kembali ke kamar, kaki ku menginjak pecahan piring tadi dan berdarah. Langsung segera ku pungut pecahan piring itu tadi takut melukai kaki orang lain. Ada yang lebih sakit dari pada luka kakiku karena menginjak pecahan piring itu, yaitu hatiku saat aku teringat bayanganmu yang kini ternyata bersama dengan teman dekatku, dulu. Iya dulu wanita yang kini bersamanya adalah teman dekatku yang selalu ku ceritakan segara bahagia dan duka saat aku bersamanya, sekarang wanita itu menganbilnya dari aku. 
  

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis