The End Game

 Lagi, lagi, lagi kamu menghindar. Apakah berbicara begitu sulit bagimu? Kamu ini kenapa? Sekarang kamu jarang bercanda ucapku, umpatku padamu waktu itu. Sebelum aku membuka tirai itu. 

Lalu pada salah satu malam terlontar pengakuan yang tepat menusuk menghancurkan hatiku. "aku sudah punya kekasih baru." ucapmu kala itu entah mungkin diucapkan tanpa perasaan bersalah. Mana pernah kamu merasa bersalah dan memusingkan perasaanku. Tidak, sekalipun tidak pernah. Sudah kamu tak perlu membela dirimu yang menyembunyikan kabar itu sekian lama dengan dalih kamu menjaga perasaanku. Tidak, sama sekali tidak membuat hatiku terhindar dari kepatahan. 

Akhir yang sudah dapat ku terka sebelumnya, aku sudah menyiapkan dari jauh jauh hari, kalau-kalau hari itu datang. Ternyata sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik kini. Malah, menciptakan aku yang terlalu gengsi untuk menangisi manusia berbentuk kamu. Aku terlalu malu untuk mengakui jika aku memang sayang kamu, aku butuh kamu. Aku manusia dengan segudang ego yang mencoba memahami manusia lainnya berwujud kamu. 

Pada salah satu malam yang kelam, kamu bersandar di bahuku dan meraih tanganku lalu berkata "kamu tau seseorang itu cuma butuh waktu 4 menit untuk jatuh cinta." aku hanya diam menanti kalimatmu selanjutnya. "dan aku sedang jatuh cinta." lanjut mu dan kornea mata kita saling beradu. "tapi bukan sama kamu." lanjutmu. Kala itu pandanganku mulai kabur, mataku berbinar karena air mata. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis