Posts

Showing posts from March, 2021

aku pamit ya...

  Berlalu seperti biasanya, seharian hujan dan aku tetap di rumah saja. Hujan, menggagalkan janji bertemu. Namun bukan berarti di tengah terik mentari janji temu tak pernah gagal. Sejauh ini aku cukup mampu melihatmu dengan jelas. Kepingan peristiwa dan desas desus namamu kini mulai membentuk sosok kamu. Namun lagi-lagi, aku manusia yang kerap mencintai manusia lainnya dengan keras kepala, aku masih saja mencari celah baikmu. Sungguh aku tak ingin memandangmu seperti manusia kebanyakan memandangmu.        Kamu, kamu, kamu lagi. Mengapa bisa selucu ini, semesta memang sedang bercanda. Ini semua lucu, tapi aku menangis. Aku meminta waktu satu hari lagi pada semesta, siapa tau kamu datang. Temanku bilang ini harusnya disudahi, temanku yang lainnya berkata cobalah sekali lagi. Mereka tak pernah merasakan indah sekaligus menyesakkan saat jatuh hati padamu.        Katakan, katakan saja langsung bagaimana caranya menjadi pemeran utama dalam hid...

Akhirnya Lupa

      Kini telah sampai pada akhirnya peristirahatan paling mulia, lupa. Telah pada sampai akhirnya lembar terakhir yang ku tuliskan untuk kamu, lelaki yang tak mencintaiku. Kini biarkan aku terbang, pergi namun aku tidak akan hilang. Sesekali aku akan muncul ke permukaan hanya untuk memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Memang benar aku tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kamu dan kamu tidak pernah benar-benar sendiri. Ah kamu memang selalu merepotkan sejak awal kita bertemu.        Kamu akan tetap abadi dalam imaji, kamu tetap indah dalam cerita, kamu akan tetap cemerlang dalam kegelapan lautan. Tapi tidak, aku tidak akan menguncimu dalam ingatan. Tulangku sudah patah, sudah tidak kuat menanggung berat rindu yang selama ini ku tabung. Celengan rindu yang tidak pernah ku pecahkan setelah perpisahan itu.        Terimakasih sudah sudi menemaniku melewati masa-masa gelap kehidupan, terimakasih sudah selalu memeriahkan s...

Benang Merahmu

      Hari ini aku lelah setelah seharian tertawa. Malamnya aku memaksa diriku untuk  menangis. Agar seimbang saja antara kesedihan dan kebahagiaan. Hari ini aku dan kamu tidak banyak bicara. Aku sibuk dengan duniaku, dan kamu entah sibuk melakukan apa. Memang seharusnya kita memang begitu kan,  Malam ini malam minggu, dan kita tak bertemu. Malam ini tidak hujan, cerah walau tak berbintang, tapi kamu tidak pergi ke rumahku. Aku juga  tidak menunggu.        Hari ini kita tidak banyak bicara, dan aku tidak tau pasti bagaimana kabarmu. Semoga kamu baik-baik saja. Kabar terakhir darimu katanya kamu lapar dan aku menyuruhmu untuk makan. Memang kadang kita selucu itu, saat lapar bukannya makan malah saling bertukar kabar. Entah kamu begitu hanya padaku saja atau ada manusia lain berjenis kelamin wanita lainnya juga. Dan aku yakin dengan sempurna jika aku bukan satu-satunya.         Aku sempat ingin hilang dari hadapanm...

Sejati tapi tak sehati

      Tadi adalah kali pertama kamu duduk di kursi itu lagi setelah malam tahun baru. Duduk di kursi ruang tamu rumahku, berbincang sejenak sebelum kamu berangkat untuk menginap melihat bintang bersama kawanmu. Itu rekor pertama setelah tiga bulan kamu tak duduk di sudut sana. Sudut yang selalu ku pandangi kala aku sendiri duduk di ruang tamu, entah untuk menantimu atau tidak.       Aku mulai luluh, lagi. Padamu. Aku benci perasaan ini, perasaan menyenangkan setiap mengingatmu, perasaan gelisah saat kamu telat membalas pesan singkatku. Aku benci saat tiba-tiba pikiranku kau kudeta. Aku benci segala aktivitas yang mendekatkan padamu, aku juga benci saat menerima kenyataan jarak terbangun diantara aku dan kamu. Bukan kita, tetap aku dan kamu dua manusia asing tidak bersama.       Teman sejati, namun tidak sehati. Hatiku sibuk untuk membencimu separuhnya jatuh karenamu. Sedang entah hatimu berisi dan terdiri dari apa saja. Mungkin terisi dia si ...