Karena Aku Cuma Satu
Memikirkan hal yang indah akan terjadi aja aku malu. Setelah kejadian itu aku menjadi sangat tidak percaya diri, namun ada waktu aku merasa sangat hebat sekali. Saat aku melihatmu dengannya aku sudah tidak menangis. Bahkan aku sudah tidak menerimamu kembali untuk bersamaku lagi. Walaupun kamu masih menjadi satu yang tak bisa lepas, manusia yang telah mencuri hatiku. Dengan perasaan yang lemah itu berhasil menyentuh sendiriku.
Apakah kamu bisa menatapku dan menemukan aku yang dulu? Bagaimana aku bisa mengerti hal-hal rumit dibalik tempurung kepalamu itu. Aku hanya tau jika kamu itu satu yang membuat luka hati manusia. Meski hatiku merasa masih ada satu harap, namun nalar tetap melawan tingginya hati. Sungguh aku tak mengerti. Aku hanya minta untuk kembalikan jiwaku walau dalam keadaan terluka. Aku tak apa, sungguh. Aku tetap akan berjalan dan mencari apa yang sedang terjadi di dalam hati ini. Walau sendiri.
Sudah banyak peduli yang tak berarti, sudah banyak hal berarti yang tak tersorot peduli. Karena aku pikir hanya kamu yang bisa menjadikan semua menjadi lebih indah. Segala ragu yang tereja kini menjadi nyata, jika ternyata kamu adalah sia. Saat aku sudah tak tau harus berkata apa, aku pikir itu cinta. Saat aku merasa bahagia saat jumpa aku merasa itu cinta. Lalu saat bertemu pada suasana yang berbeda, tetap mempesona namun kosong yang aku jumpa.
Aku tidak akan tinggal diam saat aku menginginkan kamu ada di hidupku. Pernah kah kamu kesulitan mengeja setiap rasa yang aku beri? Aku selalu merasa saat itu adalah waktu yang tepat sebab waktu terus melesat. Namun, lagi lagi kamu memang manusia bangsat. Semua yang aku beri tetap saja kasat.
Ingatkah kamu masa itu saat kita merebah di bawah bintang. Aku sungguh riang kala itu, karena ku rasa kita berjaya. Cintaku tercapai menyentuh kebebasan dan aku merasa sangat berdaya. Namun semua kembali bersih saat malam kian tersisih. Mahlihgai indah entah pergi kemana tak tersisa bagai ditelan dunia. Hatiku tertikam segala perasaan yang ada di jiwa, kemesraan berganti porak poranda. Kebebasan berubah menjadi budak dibawah rasa takut kehilangan.
Apakah rasa lebih baik jika semua itu tiada? Semua itu bagai kenangan yang tak bisa menuju alam baqa. Bergentayangan hinggap di ingatan kapan saja, mengundang tangis gaungkan pilu syarat kehilangan. Aku yang sendirian berharap telah mati sejak malam itu. Biar, biarkan aku yang itu dan kamu pada waktu itu menjadi abadi dalam ketiadaan. Dan aku tetap percaya hanya aku yang mampu memberikan kamu akal dan seluruh indraku padamu. Aku yang telah mati bersama peristiwa malam itu.
Comments
Post a Comment