Kamu, Jaga Kesehatan Ya.

 Kepada kamu manusia yang baru saja aku tau namanya. Ternyata kamu ada di kotaku lalu selama ini dimana aku kemana kamu. Kali ini aku sudah mempersiapkan hati jika kamu akan berakhir seperti yang lalu. Memangkas habis bibit harapan, membakar habis cemburu, menyempitkan khayal yang indah-indah. Sudah, kali ini aku jauh lebih kuat menghadapi perpisahan di tengah jalan yang bahagia. Dari tempat antah berantah kamu hadir menyapa, berjalan tujuh minggu dan sudah saling tau jika sama-sama mengemban luka. Tidak ada pertanyaan dan pernyataan siapa yang paling tersakiti. Bukan urusanku juga. 

Kali ini aku belum jatuh, namun lumayan lah sudah jalan separuh. Maaf jika sesekali aku menganggapmu sama seperti yang lalu. Entah kamu memang sama, atau jauh berbeda aku tak pernah tau. Tak bisa ku terka. Usai perjumpaan yang itu aku masih samar merekam wajahmu dalam kepalaku, kamu masih ku lihat samar. Yang aku tau kamu cukup tampan untuk ukuran lelaki usia sebaya. Namun tidak ada harap untuk bertemu pada garis yang sama. Namun saling mendoa untuk semoga lekas temukan satu yang lengkapi tanpa syarat. 

Pada sepertiga malam terkadang kita masih saja berbicara. Kamu yang lebih banyak mendengar ceritaku yang kadang sulit untuk dinalar. Maaf jika aku terlalu bingar. Pernah aku berkata yang terpenting dalam mencintai adalah menjada kesehatan. Sebab sepeninggal nyawa raga tak ada artinya. Maka aku berkali-kali mengucapkan untuk kamu agar selalu sehat walau hidup tetap mati pada akhirnya. Aku tidak memintamu untuk menatapku lebih lama kala berjumpa, ah mungkin saja belum. 

Kepada manusia yang baru aku tau namanya, aku tau awal tetap akan selalu diakhiri bertemu tetap berpisah pasti. Aku juga pernah berkata jika kelak kamu sudah temukan dia wanita yang kamu tuju hatinya yang bukan aku, tolong katakan padaku agar aku segera berkemas lalu pergi. Atau esok jika Desember datang dan kita masih saja tidak jelas melangkah, aku juga akan putar arah sebelum terlalu jauh. Sungguh aku tidak akan mengulang kesalahan untuk kesekian kali. 

Aku hanya ingin tidak merasa bersalah atas diriku sendiri hanya karena aku memiliki rupa tidak seperti dia yang kamu nanti. Jangankan aku memaksamu untuk melupakannya, dalam pandanganmu saja aku tak kasat mata. Usah resah atasku sebab aku tetap akan jatuh hati lagi jadi usah merasa bersalah karena merelakanmu aku sudah. Aku hanya tak mau menyalahkan diriku sendiri sebab aku bukan seseorang yang kamu harap datangnya, maka jika bukan untuk bersama aku akan pergi secepatnya tak peduli kapan waktu datangnya. Lebih cepat lebih bagus menurutku. 

Sudah, aku akan melanjutkan menangis lagi malam ini. Kamu, tetap jaga kesehatan ya. Semoga kita diberi usia yang panjang agar dapat bahagia bersama atau menyaksikan salah satu diantara kita bahagia dengan manusia lainnya.  

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis