Eros
Pada saat kamu melihat aku sudah tidak sama lagi seperti yang kamu tau saat pertama kita bertemu, tak apa. Itu bukan masalah bagiku. Mungkin memang waktuku untuk merayumu sudah habis.
Bahkan mungkin saat kamu tanpa aku kamu tidak pernah merindukan. Hanya merasa sedikit kesepian. Dan yang terjadi padaku saat ingatan masa lampau mengetuk ruang sadarku aku masih saja mengiba pada semesta agar mengembalikan aku kesana lagi.
Teringat saat di bawah remang lampu kamu bersandar di bahu dan ku bacakan puisi yang aku tulis hanya untukmu. Tidak ada janji untuk bertemu lagi, tidak ada janji untuk saling setia, tidak ada janji untuk menetap bersama. Namun keadaan kala itu seolah mengatakan janji itu semua. Atau mungkin imajinasiku saja yang berjalan terlalu cepat.
Kabut menyembunyikan perasaan ku yang selalu menunggu kedatanganmu. Lalu pada minggu ke duapuluh aku baru mengetahui arti lagu yang kamu nyanyikan setiap kita bertemu. Lagu padat isyarat untuk mengatakan bahwa bukan aku manusia yang kamu mau, dan bukan kamu manusia yang tepat untukku.
Mulai saat itu pengandaian aku yang bertemu denganmu lebih cepat kala itu agar kamu tidak tau bagaimana pelik rindu, kerelaanku untuk mengemban semua sedihmu seketika hilang entah kemana. Saat aku sibuk berbicara yang aku yakin kamu tak sepenuhnya mendengar, harusnya mulai saat itu aku sudah berkemas untuk pergi secepat mungkin.
Kini aku sudah pergi, entah kapan akan kembali ke kotamu. Yang jelas semenjak aku berkemas pergi sepi tidak menjadi nama tengahmu. Ah, jatuh cinta di kotamu terasa berat sekali. Jika tidak bisa bersama mengapa kamu setuju merebah bersama dan mendengar aku membaca puisi yang aku tulis untukmu? Ah mungkin saat itu kamu tengah berbaik hati saja. Memang tidak tepat jatuh cinta pada seseorang karena kebaikannya sebab setiap manusia dilahirkan dan dibentuk untuk menjadi baik.
Comments
Post a Comment