Bukan Cerita Negri Diatas Awan

     Pada akhirnya 2021 tidak membawaku pada seseorang yang baru. Tapi 2021 memberikan aku jatah bahagia pada akhirnya. Siapa sangka manusia yang dulu tancapkan lupa paling dalam kini merana kesakitan tak terelakkan.Dan siapa sangka manusia yang aku temui dua tahun lalu kini menjadi hadiah terindah, pembalut luka, 911 di segala kondisi dan situasi dalam hidupku. Ga deng yang terakhir bercanda hehe. 

    2021 yang tidak mempertemukan aku kepada seseorang yang baru, malah mempertemukan aku dengan bahagiaku sendiri. Mempertemukan aku dengan versi diriku yang lebih sehat dan segar dibandingkan tahun lalu. Bahagia dan syukur mengetuk pintu-pintu keikhlasan pada hal-hal yang tak berpihak padaku. Namun memang ini jalan baiknya, memang ini alurnya. Aku sudah sampai disini dan bahagia walau sendiri. Klise, namun memang begitu. Semoga kamu dan kalian semua juga begitu ya. 

    Kali ini aku akan membawa kalian pada tokoh yang baru. Ia, manusia yang ku temui dua tahun lalu siapa sangka akan menjadi penunggu malam-malamku kala aku sukar memejam. Ia yang dapat menunjukkan aku rupa bahagia dari sudut pandang yang lebih sederhana. Ia yang membuat aku merasa jengkel pada hal yang sederhana pula. Ia manusia yang sederhana namun isi kepalanya sukar. Manusia yang tak pernah bisa ku turunkan egonya dalam cerita. 

     Perkenalkan, ia lelakiku yang baru. Sial, kekasihku baru lagi. Bersamanya jatuh cinta dan menjalin hubungan akan ku buat sederhana pula. Jika kala bertemu sudah tidak saling menatap dengan tatapan cinta, jika debaran itu sudah tidak ada, maka lebih baik hubungan ini diakhiri saja. Jatuh cinta kepadanya aku buat sederhana pula. Kala ia mau mendengarkan ceritaku tentang lelaki ku yang lalu, kala ia mampu menjaga ku dari kepatahan itu, kala ia mampu membuatku tetap tertawa kala seharusnya aku sedang menangis, mulai saat itu aku meyakini aku telah menjatuhkan hati padanya. 

     Ia manusia yang tersenyum pada aku yang pernah salah memeluk. Manusia yang mengubah nadir menjadi bahagia yang takdir. Untuk kamu manusia yang tak usah aku tuliskan namanya, terimakasih. Usah kamu merasa tak berguna sebab siapa tau gunamu dilahirkan untuk membahagiakan aku. hehe. Tidak, kali ini aku tidak akan berdoa agar bertahan lama. Jika memang harus menemui ajal perpisahan ya maka terjadilah. Namun aku akan tetap merawat dengan sebaik-baiknya agar kalau-kalau itu kali terakhir kita bersama aku tidak akan menyesal.  

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis