Posts

Showing posts from 2025

Lifeat24

barangkali hidup yang aku jalani kini adalah doa yang kemarin aku panjatkan.  ditemukan dan disatukan dengan manusia yang mencintai aku meski aku berubah menjadi kodok sekalipun. terbangun dalam keadaan tenang dan bersyukur adalah hal yang baru ku dapatkan sekarang. setelah ku melewati pagi yang rasanya ingin mati karena sakit hati. setelah ku melewati malam panjang penuh ratapan  setelah ku lewati siang sampai sore dengan gusar mengapa belum juga mendapat kabar. aku, kini sudah bahagia.  hidupku jau hlebih tenang seiring dengan asam lambungku yang sudah tidak kumat. meski luka yang kemarin masih saja belum usai, masih ku genggam dendam itu atas semua lakunya yang begitu tidak terpuji. barangkali hidupku kini adalah hidup yang aku impikan dulu lalu apa yang perlu aku rutuki atas hidupku kini tidak ada alasan untuk tidak bersyukur  ketika sudah berhasil lewati sampai hari ini. 

Harusnya Tiga Saja

Satu tambah satu sama dengan empat Berharap jadi yang terakhir Namun apa yang dimulai harus berakhir Realita yang membuatku tak berhenti mengumpat Belahlah dadaku disana masih ada kamu Pecahlah kepalaku disana masih ku rapal namamu Satu-satu kau kemasi barangmu Tak cukup semalam ku menata hatiku Harusnya ku pilih tiga Atau bahkan tak saling sapa saja Jabat tangan yang kemarin  Membawaku pada patah hati paling kering Di kepala lainnya... Sungguh ia sudah melakukan perjudian paling nekad Bertaruh dengan hidupnya, dengan usianya  Padahal belum tau apa yang ada di depan sana Sampai waktunya sudah habis, dan kalah Ternyata kita sudah saling meninggalkan  Sejak pertama ada keraguan  Bertahan termakan harapan  Mungkin esok ada cincin  Tapi tidak. Maaf Maf Ma M  

Sholat, Sholat, Sholat

Babak baru dalam hidupku kini dimulai lagi. Aku harus memulai dari awal. Bukan, kali ini aku tidak bercerita tentang kehidupan romansa. Ini lebih krusial dari itu. Hingga aku menulis ini terhitung sudah dua bulan aku resign dari tempat kerjaku sebelumnya. Semua rencana ku bangun lagi dari awal. Tantangan yang sesungguhnya baru saja aku mulai.  Tentu mencari kerja selanjutnya tidak mudah, apalagi usia yang kian mendekati batas kriteria. Rasa resah dan takut pada masalah masa depan itu malah kadang membuatku tidak melakukan apa-apa. Hanya diam membiarkan diriku tenggelam di dalamnya. Saking berantakannya atau bahkan saking kosongnya aku entah akan mulai dari mana. Tidak tau menata dari mana, tidak tau menata yang mana.  Perbaiki ibadahnya dulu. Sahut aku yang lainnya. Memang sudah, selalu, pelan-pelan. Namun penghambaan ini terasa makin berat kala apa yang diinginkan tak kunjung datang. Selalu ada pembelaan di baliknya. Katanya Tuhan selalu memberi di saat waktu yang tepat, di s...

Aku Sayang Adi Sukoco

Darimu aku tau implementasi dari kalimat "tak peduli valentine aku mencintaimu everytime". Kamu yang setiap saat memberiku coklat, tak perlu menunggu momen yang tepat.Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk belikan ku bunga kesukaanku. Selalu mengusahakan apapun mintaku. Disitu aku terpacu untuk menyayangimu lebih besar lagi. Untuk membawamu ke hidupku lebih jauh lagi.  Meski aku juga sadar kalau cinta tak selamanya indah, maka sekarang selagi masih cinta akan selalu mengusahakan untuk diindah indahkan. Pun kalau esok nasib buruk menimpa kita, setidaknya kita punya ingatan indah dalam janga waktu tertentu.  Semoga pencarian teman hidup berhenti disini. Aku tak peduli siapa yang pertama bagimu namun aku mau menjadi yang terakhir. Karena akan butuh waktu lama sekali untuk kembali menceritakan hal-hal tentang diriku lagi. Butuh waktu yang lama untuk mengganti rencana-rencana masa depan dengan orang yang baru lagi.  Tentang waktu yang bersemi dan bermekaran, memegang tanganmu...

Gennao Anothen

Ketika usiaku sudah menginjak kepala dua. Aku membenci setiap April karena saat itu aku tambah tua. Aku tidak pernah siap mengemban apa pun yang ada di depan sana. Aku tak ingin beranjak dewasa. Aku masih ingin selalu ditimang, aku tidak siap untuk bermain peran. Lalu pada suatu malam di musim hujan yang ternyata panas. Aku menemukan sudut pandang yang baru.  April menjadi bulan yang kamu tunggu setelah sembilan bulan mengandungku. Kamu yang tidak sabar bertemu denganku, setelah sembilan bulan aku selalu ikut kemanapun kamu pergi. April menjadi waktumu yang penuh kerelaan bertaruh antara hidup dan mati demi dapat bertemu denganku. Hingga pada suatu hari di bulan april aku lahir dari garbamu.  Ia yang dulu belia, kini sudah beranjak dewasa.  (tulisan ini dilanjutkan setahun kemudian). Ternyata tiap harinya aku selalu dilahirkan, dari semua peristiwa yang ku telan. Hari ini belum tentu sama dengan yang kemarin, yang esok bisa jadi lebih hitam atau malah kembali bersih putih...

Zeloo

Kini ia yang makin cemerlang, terselip takut kalau pendarku tak lagi terang. Semua jadi ku anggap perlombaan, aku tak mau dikalahkan. Ada amarah sedikit serakah. Aku yang lain berkata, tak seyogyanya begini. Tapi bukankah ini yang aku mau, bukankah ini yang dia mau, bukankah ini yang dia impikan, yang seharusnya aku juga ikut senang.  Menyalahkan diri sendiri tak cuma sekali. Labeling diri yang tak bisa apa-apa, tak berdaya. 4 dari 7 malam dalam seminggu aku menyalahkan kaki ku yang tak cukup cepat berlari, menyalahkan tubuhku yang tak cukup kuat untuk berkelahi, sisanya ingin menghilang saja dari sini.  Kembali menata dari satu, mulai kembali memulai lima waktu. 33x dan yang lainnya, mampukah memudahkan semua.  Dalam kepala aku marah. Yang teringat hanya wajahnya yang lelah. Sudah ku duga kedepannya pasti tak mudah.