Dari Wanita yang Minus Matanya
Hari ini aku pergi ke suatu tempat yang tinggi. Tempat antah berantah yang sebelumnya belum pernah ku pijaki. Aku bersamamu, dan satu temanku. Sebetulnya aku ingin duduk di belakangmu sambil memeluk pinggangmu bersama menembus kabut dingin. namun aku tak bisa, karena harus menemani seorang temanku. Kamu masih tampak seperti biasanya, lagi lagi secara kebetulan kita sama sama pakai baju hitam hanya saja aku memakai celana biru jeans. Pesonamu masih sama saat kamu memetik gitar. Aku tetap memandangimu walau sebetulnya blur karena mataku minus dan aku tak pakai kacamata.
Kita tadi tak banyak bicara, hanya kamu yang menyuruhku memakai jaket jeansmu karena aku waktu itu kedinginan. Kita tak banyak bicara, hanya tadi kamu memberi tau meminjam jaket hitamku seusai aku sholat magrib.
Hari ini aku bertemu denganmu. Di tempat yang tinggi dan tak terjamah. Aku masih memandangimu dengan sama seperti biasanya walaupun wajahmu tampak blur karena mata minusku. Hari ini kita bertemu, dan meminum kopi. Kopimu kamu teguk saat sudah mulai dingin, saat kopiku tinggal setengah gelas. hari ini kita bertemu, dan kamu tidak minum setelah makan, kamu hanya makan nasi pakai indomie, ga sehat itu karbohidrat semua.
Hari ini kita bertemu, namun kita sedikit bicara kamu lebih banyak bernyanyi. Aku hanya diam memandangi caramu melagu dan sesekali tersenyum ke arahku walau aku tak yakin karena lagi lagi, mataku minus dan aku tak pakai kacamata. Aku ingin seperti ini selamanya. Disekitarmu dan memandangimu bernyanyi sambil memetik gitar. Tapi tolong lebih dekat agar aku bisa melihatmu dengan jelas dengan mata minusku.
Pukul sembilan kita sampai kerumah masing-masing. Aku tak tau pasti apakah kamu langsung pulang atau mampir dulu ke rumah kekasih hatimu, atau bisa saja menemui dia si masalalu. Sesuatu yang selalu aku pikirkan dan khawatirkan. Apakah hanya aku satu satunya wanita yang dapat melihatmu bernyanyi dengan mempesona, atau ada wanita lain yang kamu juga mencintainya. Apakah hanya aku satu-satunya wanita yang selalu ingin kamu temui setiap harinya, atau ada yang lain atau bahkan ia si masalalu.
Apakah kamu sudah baik-baik saja? Apakah kamu masih akan menepati janjinya? Sampai kapan kamu akan mencoba menepati janji? Wanitamu sudah bergegas pergi, bahkan sudah temukan hati lagi. Sedang kamu, kamu masih menangis menyalahkan dirimu sendiri. Tapi kamu beruntung, karena kamu punya aku. Kamu punya aku yang dengan rela kamu miliki semua. Kamu beruntung punya aku yang dengan bodoh mencintaimu sangat serius walaupun kamu tidak urus.
Saat hampir pukul sepuluh malam, kamu mengirimi ku foto secangkir susu dan kamu belum solat isya. Lalu kita mulai bercanda seperti biasa. Aku menanyakan apakah kamu berkunjung ke rumah wanitamu yang lainnya dengan nada bercanda. Sepertinya tidak. Kamu sudah di rumah dan sedang meneguk susu coklat. Untuk kamu lelaki yang ku sebut bangsat, tolong tetap begini semoga kita bertahan lama dengan suatu kejelasan dalam langkah kita saat bersama.
Comments
Post a Comment