aku pamit ya...
Berlalu seperti biasanya, seharian hujan dan aku tetap di rumah saja. Hujan, menggagalkan janji bertemu. Namun bukan berarti di tengah terik mentari janji temu tak pernah gagal. Sejauh ini aku cukup mampu melihatmu dengan jelas. Kepingan peristiwa dan desas desus namamu kini mulai membentuk sosok kamu. Namun lagi-lagi, aku manusia yang kerap mencintai manusia lainnya dengan keras kepala, aku masih saja mencari celah baikmu. Sungguh aku tak ingin memandangmu seperti manusia kebanyakan memandangmu.
Kamu, kamu, kamu lagi. Mengapa bisa selucu ini, semesta memang sedang bercanda. Ini semua lucu, tapi aku menangis. Aku meminta waktu satu hari lagi pada semesta, siapa tau kamu datang. Temanku bilang ini harusnya disudahi, temanku yang lainnya berkata cobalah sekali lagi. Mereka tak pernah merasakan indah sekaligus menyesakkan saat jatuh hati padamu.
Katakan, katakan saja langsung bagaimana caranya menjadi pemeran utama dalam hidupmu, katakan saja dimana kamu sembunyikan kunci pintu hatimu, sebentar lagi aku sudah mulai lelah mengetuk. Kamu tau kan jika aku tak akan pernah mau lewat jendela, sekalipun jalannya terbuka. Tak apa letakkan aku di saku belakangmu, gunakan aku saat april hingga september. Aku tak keberatan.
Aih.. tampaknya aku lupa jika kamu ini seonggok aquarius yang inginnya selalu serius. Tapi semakin larut kita dalam sapa, aku semakin tau dengan pasti alasan dibalik semua ini. Bukan, bukan karena kamu aquarius yang selalu ingin serius, tapi memang karena dari awal kamu memang tidak pernah berpikir untuk melangkah lagi. Memang dari awal kamu cukup kan kita menjadi teman saja, dan tertawa bersama tanpa rasa.
Memang sedari awal hanya aku sendiri yang berharap kita berakhir bahagia, memang dari awal hanya aku yang berpikir aku dan kamu bisa menjadi cerita, membangun rumah, memandang bulan bersama walau malam itu mendung. Memang ternyata sedari awal hanya aku, hanya aku, sendiri. Kamu tidak, sekalipun tidak pernah, tidak.
Iya sudah tak apa. Aku baik-baik saja. Tidak, aku hanya memberi tau saja sebab aku tau kamu tidak akan pernah berpikir akan menanyakan keadaanku, sekalipun aku memang sedang tidak baik-baik saja. Ah, kamu memang selalu begitu. Adakah wanita yang sebodoh aku memberikan semua dunianya pada kamu, laki-laki yang bahkan tidak pernah tau akan terjadi apa setelah perbuatannya. Alibimu "aku memang begini orangnya" dirasa sudah tidak cocok lagi dalam perkara ini. Tidak semua mampu memaklumi itu, tidak semua akan selalu memaklumi itu. Termasuk aku.
Comments
Post a Comment