Februari Sore Hari

    Pada akhir Februari saat sore hari. Aku semakin yakin jika aku nothing atasmu. Aku semakin percaya jika kemarin aku telah melakukan kesalahan yang tak biasa. Kesalahan yang mengantarkan aku pada kesakitan kini. Suatu hari di sore yang mendung, di kedai minuman milikmu aku bersama kawanku berkunjung. Aktivitas yang akhir akhir ini ingin sekali ku hindari. Ingin berkata tidak pada setiap ajakan sungguh aku tak sampai hati. 
    Naif, kata yang tepat menggambarkan aku kini. Dengan lugunya aku percaya jika kamu akan datang padaku entah kapankah itu. Aku jatuh cinta pada kemungkinan-kemungkinan tentang dirimu terhadapku. Aku jatuh cinta pada khayalan jika kamu akan selalu ada di setiap sepiku, setiap laraku, setiap mataku mengedip kamu tetap ada disana. Aku jatuh cinta pada kemungkinan "kalau kamu juga mencintaiku". 
    Kembali pada suatu sore mendung di akhir bulan februari. Mataku melihat kedekatanmu dengan kawanku. Setelah selama ini? Setelah sedalam ini? Setelah kawanku dengan menggebu membawa kabar jika kamu juga cintaiku, setelah semua yang telah terjadi antara aku dan kamu. Setelah selama ini, waktu yang cukup untuk mencicil uang kuliah. 
    Katamu aku menjadi manusia yang berbeda. Iya aku memang berbeda, lalu kenapa? Bukankah aku tidak begitu berpengaruh dalam hidupmu? Maaf aku menghilangkan kucing yang kamu berikan padaku, maaf aku selalu mengganggumu dengan lelucon bodohku, maaf aku terlalu sering berkeluh kesah tentang ini dan itu padamu, maaf. 
     Ada dan tiadaku tak berarti apa-apa untukmu, lelaki mudah bergaul yang kebetulan rupawan. Yang dalam pandanganku, kesepian tidak pernah menyapamu. Tubuhmu, tubuh yang tak pernah dipeluk sepi. Hatimu, hati yang selalu ada sorai disana. Namamu, nama yang selalu disebut oleh hati yang mendambamu. Dan apa yang berlaku padamu tidak berlaku padaku. 
     Untuk kamu lelaki yang sampai saat ini isi kepalamu belum pernah bisa ku baca. Ternyata memang benar tak ada manusia yang dapat mengerti manusia lain dengan sempurna. Jika aku mengerti kamu dengan sempurna, harusnya aku tau kepada siapa hatimu kini masih berlabuh yang jelas bukan padaku. Kini, aku kembali pada ruang yang bernama sepi. Selepas kamu pergi, tidak ada lagi alasan aku membuka aplikasi chat dengan semangat. Selepas kamu pergi, saat ku buka mata di pagi hari serupa ada beban berat yang menghimpit dada. Aku kehilangan kamu. Kamu tidak pernah kehilangan aku. 
    
     
 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis