Terlelap di tengah rapalan namamu

Setiap malam aku tidak bisa tidur, kalau pun tertidur itu pasti karena ketiduran disaat aku sedang melakukan sesuatu. Sebelum tidur aku selalu rutin membaca buku dengan halama acak, dan aku akan tertidur pada lembar ke tiga. Atau aku akan menghitung mundur dari seribu sampai nol dan aku akan tertidur pada hitungan ke lima puluh. Semenjak saat itu, bagiku tidur menjadi hal yang mengerikan. Aku takut akan bayang kelana pada sesuatu yang fana. 

Larut aku dalam rupamu, tenggelam aku dalam lisanmu, hilang aku dalam afsunmu. Aku terbentur rindu yang tak kunjung bertemu. Tak ada ruang yang tersisa hanya untuk kita berdua.. Gerak kita kian terbatas, waktumu yang kian menyempit, tak sebanding dengan banyaknya manusia yang ingin kau temui. Mungkin ia gadis lucu yang sekujur tubuhnya dibalut kain berwarna merah muda, atau ia yang pernah kau topang tubuhnya kala pingsan di tengah belantara. Kamu lupa aku, manusia yang menanti hadirmu walau tidak selalu. Apa aku ini terlihat terlalu kuat sampai kamu abai? ku rasa tidak. 

Apakah kamu mengucap kata rindu walau usai bertemu kepada para wanitamu yang lainnya? Apakah kamu meminta kecup kepada wanita wanita yang kamu temui selain aku? Apa kamu telah menautkan hatimu pada wanita lainnya selain aku? Biar ku koreksi, bukan selain aku. Aku bahkan tidak pernah tau apakah kamu mencintaiku atau tidak. Belum lelah kah kamu berkelana dalam mencari teman sehidupmu? Atau kita ini sebetulnya sama saja, satu jiwa yang berada dalam tubuh yang berbeda. Sepasang manusia yang bersama namun takut komitmen. 

Aku mencintaimu sebentar, lalu setelahnya tidak. Aku merindukanmu sangat, lalu setelahnya aku merindukan manusia lainnya. Kamu begitu juga kah? Entahlah, mungkin banyak sekali hal hal yang tidak ku ketahui tentangmu, tidak seperti dia atau mereka manusia yang berjenis kelamin wanita yang saat bersamanya kamu rela berbagi cerita. 
Semalam aku membaca percakapan kita beberapa bulan yang lalu, saat 3 bulan pertama bertemu saat aku masih punya harapan tentang kita. Ah kita pernah sehangat itu, lalu kita sudah sedingin ini. Semuanya berubah, termasuk aku, termasuk kamu, termasuk mereka.  

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis