......
Tak ada yang abadi. Semua pasti punya tenggat waktunya. Termasuk pada hal hal yang dirasa tak mungkin terpisah. Tak ada yang abadi. Yang abadi hanya perasaan saat kenangan mengetuk pintu ingatan. Emosi yang dengan terlalu, entah sedih, senang, amarah atau kecewa. Atau perasaan lain yang mengganjal mata hingga tak bisa tidur.
Tak ada yang abadi. Aku yang dulu sangat kamu sekali bisa saja aku terbangun di suatu pagi dan kamu sudah tidak ada lagi padaku. Begitu juga sebaliknya. Maka untuk apa menyandarkan hidup pada makhluk hidup lainnya yang tak jauh berbeda dengan kita. Maka untuk apa mendamba menghamba pada manusia lainnya.
Tak ada yang tidak mungkin juga atas apa yang telah disetir semesta. Bisa saja keabadian itu ada, namun entah apa yang abadi. Bisa saja bukan dia orangnya, atau bukan disini tempatnya. Tidak ada yang tidak mungkin, kecuali memang tidak ada kesempatan dan memang bukan jalannya. Selama masih bisa putar arah, mengapa tidak? Selama masih bisa memilih kenapa tidak
Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, maka tidak menutup kemungkinan kamu yang sama sekali tidak memikirkan jatuh hati padaku, bisa saja esok hari saat kamu terbangun kamu merasakan hal yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Maka percaya saja sesuatu yang kamu inginkan akan terjadi. Maka jangan membenci dengan tertalu juga, sebab esok tak ada yang tau.
Jika tidak ada yang abadi, jika tak ada yang tau esok hari maka mengapa kamu sedih dengan terlalu? Sedih juga tak akan abadi. Dan bahkan masih bisa memilih untuk tidak bersedih. Mengapa harus bersedih saat kamu bisa bahagia. Lalu saat kamu memilih untuk bahagia, mengapa harus bahagia saat kamu bisa memilih untuk bersedih.
Comments
Post a Comment