Tristis
Masih berhenti di kamu. Aku masih saja belum melaju. Masih tak tau juga kemana yang akan aku tuju. Karena kamu dengan sempurnanya merusak semua rencanaku. Semenjak aku sudah memutuskan untuk bersamamu, segala yang akan aku lakukan dalam hidupku aku memikirkan untuk dilakukan berdua. Membeli tiket konser berdua, menyiapkan kudapan dan sloki untuk minum berdua, mencari tau makanan kesukaanmu untuk makan malam kita berdua.
Lalu sampai sekarang aku masih mempertanyakan kita ini serupa apa. Teman tak melakukan hal yang kita lakukan, kekasih juga tak melakukan hal yang kita lakukan.
Setelah bersamamu, aku jadi tau kalau tak ada hubungan yang panjang dari pendekatan yang hanya sebentar. Baru saja tiga bulan, laku mu bagai tarian pengundang hujan air mata di malam penuh kejanggalan itu. Wangimu tersisa di sela baju hangatku beserta sedih paling palung. Soal perkara itu aku mati-matian mencari jalan keluar, sedang kamu menolak dan menyumpal kepalaku dengan alasan tak masuk akal. Bahkan bibirmu dihiasi senyum merekah, sialnya kamu tampak baik-baik saja. Aku utarakan suatau yang ingin ku tuju, tapi kamu tak ada harapan. Timbul suatu hal yang selalu ku pertanyakan. Sudahkah kamu menemukan penggantiku, manusia yang tak pernah lelah atas tingkah liarmu, manusia yang terima semua sumpah serapahmu. Selain aku. Selain aku.
Comments
Post a Comment