Yellow Pink

Setelah membaca tulisanmu, dalam benak ku bertanya "sedang jatuh hati kepada siapa dirimu kini?" bertanya wanita mana yang berhasil meluluhkan hatimu. Pertanyaan yang tak pernah ku lontarkan kepadamu. Tanya yang hanya menggema di kepala, memberi ruang penuh terka. Apalagi pertanyaan tentang "apakah kamu jatuh hati kepadaku?" tanya yang sampau mati sepertinya tak akan pernah terlontar.

Untuk aku yang menatap wajahmu lebih dari lima detik saja tak mampu, sungguh aku menggilai semua yang ada padamu. Sehingga waktu yang ku habiskan bersamamu ingin ku bekukan agar tak lekang oleh waktu. Atai kalau boleh meminta aku akan meminta banyak waktu yang aku habiskan bersamamu. Bahkan untuk menatap hujan sepanjang hari dari balik jendela kamar saja aku tak keberatan. Atau melakukan aktifitas membosankan lainnya asal itu bersamamu aku rela melakukannya. 

Begitulah aku, yang kalau sedang jatuh hatinya pada seseorang manusia akal sehat terkadang tak ada gunanya. Kala menuliskan ini di tempat lain namun di waktu yang sama ada pula manusia yang menuliskan surat cinta untuk pujaan hatinya. Tak jauh beda denganku, yang tak berani ungkapkan cintanya. Terlalu banyak ketakutan untuk melakukan sebuah pengakuan. 

Dia terlalu indah dan aku selalu menjadi bodoh atasnya. Jadi aku melakukan semua yang tidak pernah selesai. Mungkin aku jatuh hati padamu dan aku tidak memiliki alasan untuk tidak jatuh hati padamu. Aku akan selamanya menjadi bodoh karenamu. Kita menghabiskan beberapa malam dan kamu tertawa karena lelucon yang aku lontarkan. Mungkinkah kamu jatuh hati padaku atau mungkinkah itu hanya obrolan malam saja. Kamu terlalu indah dan itu sungguh sangat tidak nyata. 



Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis