Gun n Roses

Kala aku menuliskan ini kekasihku sedang sakit kepala. Sudah sejak tadi ia berbaring di sampingku tangannya masih melingkar di perutku. Sebelum ia tertidur perutnya sudah ku isi dengan sepiring makanan bergizi, walau belum sempurna dengan 5. Lalu kini giliranku menghangatkan sewadah cinta untuk kita sarapan esok pagi. 

Selesai menulis satu paragran aku menengok ke arah kekasih hatiku. Matanya tertutup, namun dahinya masih berkerut. Entah apa yang ia pikirkan dalam tidurnya. Ku kecup keningnya mengelus pipinya memastikannya dalam keadaan baik-baik saja. Duhai kekasih hatiku kini, usah kamu cemas selama kita bersama dunia hanya sebatas mata kaki. Selama kita bersama terik matahari tak ada apa-apanya dibanding cinta kita ini. Selama kita bersama udara dingin tak menjadi masalah sebab kita masih dapat saling mendekap. 

Untuk kekasih hatiku, aku selalu ingin tau apa yang kamu pikirkan ketika pertama kali membuka mata di pagi hari dari tidurmu. Aku ingin tau apa yang kamu rindukan sebelum memejam kala malam. Aku ingin tau lagu apa yang kamu senandungkan kala kamu mulai kesepian. Aku sudi mempelajari semua yang ada padamu bahkan tak apa bila harus membelah belantara pikirmu. 

Kepada lelaki berhidung bangir, matanya yang meneduhkan dan bibirnya yang sedikit tebal, rambut cepak yang mengembang kaki jenjang yang menopang tubuhnya, kulitnya yang cukup terang dari kebanyakan, aku menjatuhkan hati padamya. Terlepas dari wajahnya yang rupawan, pemikirannya yang brilian membuatku jatuh cinta tak terelakkan. Demi menjadi kekasihnya aku rela menebus bahkan dengan patah hati yang paling dalam. 

Kalau menjatuhkan hati padamu adalah hal menyakitkan, maka itu akan tetap ku lakukan. Karena kamu selalu sepadan bila harus ditukarkan dengan hal yang paling menyakitkan sekalipun. Bahkan untuk saat ini, kala kamu tengah berbaring di sampingku namun kamu memikirkan wanita lain aku sudah siap berdarah atas itu. Kamu selalu sepadan dengan apapun dan aku rela menukarkan apapun yang aku miliki untukmu. Demi menjadi kekasih hatimu. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis