Prince nya Wanita

Seusai kejadian itu, setelah aku kembalikan kepingan matahari yang dikirimkan kepadaku tempo hari, pantulan sinar matahari tak pernah sama lagi. Disana tampak bayangan retakan. Bayangan yang membuatku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian pada kala itu. Tidak akan melupakan lelaki yang dulu teramat aku cintai.

Aku masih bisa mengingat baju apa yang dikenakan lelaki itu saat bertemu denganku kala itu. Aku masih dapat mencium aroma tubuhnya, wangi manis kopi dan sedikit asap jalanan. Aku masih mengingat raut wajahnya dan caranya menyibak rambutnya, bahkan aku masih jatuh cinta pada caranya menyalakan rokok, menghisap, dan menghembuskan asapnya. Kadang hisapan itu dalam, dan dihembuskan dengan berat. 

Pengandaian tak berguna mulai hadir mengetuk sadarku. Andai waktu itu kita tak berpisah, andai waktu  itu semua baik-baik saja, andai saat itu aku memeluknya lebih lama karena ternyata malam itu malam terakhir kita bertemu. Andai, andai, andai yang lainnya bermunculan memenuhi isi kepala sampai tak sadar gelasku sudah penuh dan isinya tumpah. 

Kali ini aku akan membawa kalian ke masa ketika aku dan dia masih bersama. Sebelumnya kenalkan namaku wanita. Aku terlahir dari keluarga berencana dan tumbuh dengan sehat. Ketika aku SMA aku bertemu dengan lelaki tampan keturunan tionghoa keluarganya pindahan dari laut cina selatan. Aku lupa bagaimana awal kita berkenalan sepertinya tidak resmi seperti saling menjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Yang aku ingat pada suatu siang jam pulang sekolah aku sudah berada di boncengan motormu dan kita pulang bersama. Setelah itu kita sepertinya menjadi sepasang kekasih. 

Namanya prince. Lelaki dengan aroma tubuh yang menyenangkan. Ia keturunan guru besar perguruan silat 9 naga. Dan selama bersamanya aku menemui hal hal baru yang bahkan belum pernah ku temui sebelumnya bahkan kepikiran sebelumnya pun tidak. Ia yang pertama kali mengajakku berendam di saos atau minyak wijen. Ia yang pertama mengajakku hujan hujanan di bawah terik matahari. 

Sudah sampai sini dulu ya, aku tak sanggup lagi mengenang kenangan tentang dia dalam jangka waktu yang lama. Takut aku akan berubah menjadi ikan koi. Selamat membaca kisahku dan sampai jumpa pada tulisan selanjutnya.  

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis