Dimas Dimana?

 Jauh. Kau pergi angin sore. Penyejuk di antara siang dan malam. Selalu datang tak mengenal lara hati sebetulnya apa yang masih kamu cari. Yang ada msaih kurang ditambah minta lagi. Apa lagi yang kamu nanti. Menanti yang sudah mati menanti yang tak pernah datang. Oh angin sore, kapan kamu kembali? Hamba rindu sendiri disini di tempat pertama bertemu. Menyelinap di balik helai rambut, di lekuk baju dan belakang telinga.

Aku sendiri menanti. Bukan kamu yang hadir. Angin pancaroba berhembus sangat hebat. Menerbangkan seluruh rambutku tak beraturan namun rinduku tak ikut terbang bersamanya. Rindunya masih tebal setebal kabut pagi tadi yang gerimis pula. Malamnya angin darat berhembus menjadikan sekitaran dingin. Aku menggigil, malam tak meminjamkan jubahnya. Hanya menyuguhkan rembulan yang kesepian perlahan memudar dimakan awan hitam.

Konon katanya cinta adalah jawabannya. Tapi aku harus pergi, kamu juga pergi dan kita harus menerima. Aku mencintaimu setiap hari dan kamu harus tau. Aku mencintaimu dan menanti hari baik untuk menuju jalannya. Jauh... jauh disana aku melihat jalan yang langsung menuju pintu mu. Jalannya belukar terlalu sukar untuk dilewati. 

Halang melintang tak terarah. Perkara mudah jadi sulit. Garis lurus jadi berkelok tak terarah. Benang panjang jadi kusut. Tak dapat ku pastikan apakah aku ada disana. Aku tak tau juga kamu ini makhluk apa. Sesuatu yang dapat membuatku merasa sedang dipeluk hanya dengan tatap matamu. Aku jadi percaya bila bumi bisa berhenti berputar waktu bisa membeku atau berjalan lebih lama dan kadang juga kejam. Aku jadi tawanan rindu kala sehari saja tak bertemu. Akkhh kamu ini sebetulnya apa?

Semua yang masih ku simpan masih kah ada harapan? Ya, siapa tau kamu datang kembali. Aku tak kemana-mana selama ini, kalau kamu mau pulang jalannya masih sama. Untuk kamu ketahui aku sudah menjalani hidupku sendiri, lama sangat lama. Enggan kisah yang baru namun kalau bersamamu aku siap mengulang semuanya dari awal. Aku tak ingin menghabiskan hidupku sendiri. 

Sebelum aku terbang menembus awan, nongkrong di konstelasi orion, menyapa bulan yang kesepian aku ingin memelukmu beberapa kali karena aku yakin tak akan cukup sekali. Kadang aku merasa hidup tanpa kamu seperti beli korek padahal ga ngerokok. Terasa "akh untuk apa?" tapi dalam beberapa situasi berguna juga. Tapi analogi terasa tak penting lagi dalam urusan ini. Tak ada yang lebih penting dan pelik dari urusan perasaanku untuk saat ini. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis