Lelaki itu adalah kekasihku

 Hai kembali lagi dengan aku, manusia. Aku kembali dan akan menceritakan kisah hidupku bersama lelaki yang dari hidungnya tumbuh kecambah. Ya akhirnya aku menemukan tambatan hati setelah aku merasa hidup tak perlu membutuhkan cinta. Namun ya kembali lagi, kita ada di dunia ini juga berkat cinta, kita masih bisa hidup sampai saat ini juga karena cinta. Terutama aku, bisa hidup sampai sekarang ya karena cinta Tuhan kepadaku saja. 

Aku bertemu dengan lelaki itu di pinggir rel kereta yang sudah tidak digunakan lagi. Konon katanya disana pernah ada sepasang kekasih yang dikejar kereta lalu sepasang kekasih itu berlari sampai matahari. Menurut berita yang beredar sih mereka menikah disana, namun ada yang bilang kalau si cowok mengambil kepingan matahari yang hancur karena tertabrak kereta lalu kepingan itu diberikan kepada kekasihnya itu. 

Entah cerita itu benar adanya atau tidak namun kalau benar aku menginginkan menjadi wanita itu, diberi kepingan matahari. Aku merasa itu romantis, karena tidak semua wanita bisa memiliki kepingan matahari. Sejauh ini yang aku miliki hanya kepingan masa kecilku yang mulai buram, kepingan kenangan masa kecilku yang bahkan aku saja tak dapat mengingat bagaimana wajah kedua orang tuaku. Yang aku ingat hanya aku menangis sendirian di tengah kerumunan orang-orang.

Kekasihku namanya aquarium lelaki yang dari hidungnya tumbuh kecambah. Ia, ketidak sempurnaan yang nyata dalam hidupku namun aku sungguh mencintainya. Kisah pertemuan kita juga sungguh tak terduga, saat itu aku sedang makan di warung pecel lele yang ternyata itu warung ronde. Disanalah aku bertemu dengan aquarium. Ia sedang duduk sambil mencaburi kecambah yang menyebul dari lubang hidungnya. 

Kita berkenalan dengan cara yang lazim, saling menjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Setelah itu kita mulai berbicara tentang apa saja. Kita membicarakan kebiasaan spongebob yang dilakukan setiap hari minggu, lalu mempertanyakan eksistensi hukum newton dengan gaya hidup anak remaja di daerah nababan. Semakin sering kita bertemu, semakin sering kita ngobrol aku seperti menekukan diriku di dalam dirinya. 

Mulai saat itu hari-hariku tidak lagi kesepian, wajahku tidak lagi murung. Bahkan bulan yang biasa aku pandangi tiap malam saja pangling dengan diriku. Bulan bertanya "siapa wanita berwajah sumringah yang memandangiku itu" lalu aku jawab "hei ini aku, manusia." lalu rembulan menjawab "oh hai aku bulan". Begitulah, hidupku kini sudah banyak berubah semenjak aku bertemu dengan aquarium. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis