Sholat, Sholat, Sholat
Babak baru dalam hidupku kini dimulai lagi. Aku harus memulai dari awal. Bukan, kali ini aku tidak bercerita tentang kehidupan romansa. Ini lebih krusial dari itu. Hingga aku menulis ini terhitung sudah dua bulan aku resign dari tempat kerjaku sebelumnya. Semua rencana ku bangun lagi dari awal. Tantangan yang sesungguhnya baru saja aku mulai.
Tentu mencari kerja selanjutnya tidak mudah, apalagi usia yang kian mendekati batas kriteria. Rasa resah dan takut pada masalah masa depan itu malah kadang membuatku tidak melakukan apa-apa. Hanya diam membiarkan diriku tenggelam di dalamnya. Saking berantakannya atau bahkan saking kosongnya aku entah akan mulai dari mana. Tidak tau menata dari mana, tidak tau menata yang mana.
Perbaiki ibadahnya dulu. Sahut aku yang lainnya. Memang sudah, selalu, pelan-pelan. Namun penghambaan ini terasa makin berat kala apa yang diinginkan tak kunjung datang. Selalu ada pembelaan di baliknya. Katanya Tuhan selalu memberi di saat waktu yang tepat, di saat sudah siap. Katanya rencana Tuhan selalu lebih indah.
Namun penyangkalan dari itu semua juga tak kalah banyak. Mengapa masih menyembah jika tak kunjung berbuah, mengapa giat menyembah kala disana tak dekat denganNya namun hidupnya bergelimang harta, dan penyangkalan lainnya. Lalu timbullah keraguan akan kebenarannya. Ditambah ada perasaan benci dan perasaan tidak bersalah kala melanggarNya.
Mungkin dengan pemikiran yang demikian praktik satanis banyak berkembang. Orang susah dan bimbang mudah sekali diberi keyakinan baru yang menjanjikan. Itulah, pentingnya mempertebal keimanan. Cukup pelik kalau hidup tidak dibarengi dengan keyakinan. Hidup hanya hidup tanpa tujuan, tidak ada tempat untuk berpulang.
Simpulannya, perbaiki ibadahmu.
Comments
Post a Comment