Gennao Anothen

Ketika usiaku sudah menginjak kepala dua.
Aku membenci setiap April karena saat itu aku tambah tua.
Aku tidak pernah siap mengemban apa pun yang ada di depan sana.
Aku tak ingin beranjak dewasa.
Aku masih ingin selalu ditimang, aku tidak siap untuk bermain peran.
Lalu pada suatu malam di musim hujan yang ternyata panas.
Aku menemukan sudut pandang yang baru. 

April menjadi bulan yang kamu tunggu setelah sembilan bulan mengandungku.
Kamu yang tidak sabar bertemu denganku, setelah sembilan bulan aku selalu ikut kemanapun kamu pergi. April menjadi waktumu yang penuh kerelaan bertaruh antara hidup dan mati demi dapat bertemu denganku.
Hingga pada suatu hari di bulan april aku lahir dari garbamu. 

Ia yang dulu belia, kini sudah beranjak dewasa. 

(tulisan ini dilanjutkan setahun kemudian).

Ternyata tiap harinya aku selalu dilahirkan, dari semua peristiwa yang ku telan. Hari ini belum tentu sama dengan yang kemarin, yang esok bisa jadi lebih hitam atau malah kembali bersih putih. 
Lewat kesedihan, keresahan, kesenangan, kehilangan, dan dari yang di dambakan. Aku berulang kali dibentuk. Bahkan dari ketidaknyamanan di tengah zona nyaman pun aku dari sana. Aku lahir dari buku-buku yang ku baca lagi, dari teguran Tuhan yang bahkan aku sendiri tak menyadarinya. Aku terlahir dari penyangkalan yang menjadi kenyataan. Aku lahir dari penolakan yang tadinya ku dambakan. 

Aku, aku bisa lahir kapan saja, dimana saja, dan dari mana saja. 

Lalu yang kini perlu ku lakukan melanjutkan hidup karena aku terlahir berulang kali. Aku belum mati.


Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis