Untitled

Sudah terlanjur. Aku terlanjur menawarkan, terlanjur mengiyakan. Sampai akhrinya kita berpasangan. Selalu seperti katamu, udah terlanjur mau gimana lagi. Berulang kali pemakluman terkabulkan atas semua tingkah keparatmu. Menjadi keparat memang semudah menjadi kamu, yang selalu alpa logika lupa hatinya dimana. 

Sialnya aku telah memutuskan hidup bersama pecundang. Pecundang yang bangsat pula. Bodohnya aku masih menerima hanya karena ia tak buruk rupa. Tunggu, tunggu saja. Aku selalu ingin balas dendam. Kala bersamamu adalah sebuah pilihan maka aku juga dapat memilih untuk berjalan mengganti tujuan. 

Ternyata ada yang sama sulitnya dengan menyatukan dua agama yang berbeda, yaitu menyamakan tingkat berpikir yang berbeda. Kala bersamamu aku terpaksa mengkerdilkan duniaku, menyempitkan pandanganku, hanya seluas dan selebar pola pikirmu. Mendefinisikan keindahan hanya sepanjang alismu.

Kala pasangan lain menjadikan lagunya dewa 19 untuk anthem kisah cintanya, aku memilih lagu matraman milik the upstairs untuk menjadi anthem hubungan ini. Terasa liar, kasar, dan penuh pengorbanan. Kisah cinta khas kelas bawah yang dipadu dengan segala kerumitan hidup yang turut membentur. Demi debu dijalanan dan batu yang beterbangan ku bersumpah aku mencintaimu. 

Lalu kini aku sudah mulai berjalan mengganti arah tujuan, menggeser pandangan. Aku belum benar-benar meninggalkan namun tanganku kembali kamu genggam. Setelah itu kamu pergi lagi dari ruang obrolan. Aku kembali kamu tinggalkan, menunggu tanpa kepastian. Sebetulnya bisa saja aku tak melanjutkan. Namun lagi-lagi ada sesuatu yang terus aku cari hingga aku terus kembali.  

Kepada manusia yang kemarin ku panggil sayang. Benarkah yang ku dengar itu bahwa kemarin ada wanita selain aku yang tidur di sampingmu? Sialnya malam itu tidurku tak nyenyak hingga aku tau kalau kamu tak pulang malam itu. 

Teruntuk aku, "janganlah marah. Sebab tak ada yang salah. Ia hanya tak mencintaimu." 

Teruntuk kekasihku dulu, aku tak membencimu meski kamu telah merusak rencanaku. Aku sudah mempersilahkan hatiku untuk patah banyak. Kamu yang sengaja berlaku buruk padaku, dan perlu kamu tau aku masih peduli tentang kabarmu. 

Biarlah ini menjadi cerita kalau aku pernah memilih hidup bersama pecundang. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis