Nah Kan.
Berkali-kali aku menyalahkan minuman yang membuatku setengah tak sadarkan diri itu. Sialan. Aku tak mau kisah ini berhenti di bulan juni. Aku tak mau hujan juga turun membasahi pipiku. Sayang, kamu hanya perlu kamu memahami aku. Aku tak keberatan bila harus berkali-kali memberimu pengertian sampai akhirnya kamu tumbuh pemahaman. Pantaskah aku meminta maafmu kala diriku saja belum memaafan peristiwa itu. Sayang semua ini terasa sangat sulit bagiku. Karena kamu telah memilih bersamaku, maka akan aku ceritakan semua kisah pahit itu. Namun siapa sangka ternyata aku tak seharusnya begitu. Semua yang aku bagikan padamu harusnya yang manis manis saja. Bahkan kamu tak perlu tau kalau aku berdarah juga. Sayang, untuk kali ini saja tolong mengertilah. Malam itu ia menyayatku dengan pisau tanpa naluri. Lalu aku sakitnya tak juga berhenti. Bahkan ketika aku bertemu kamu sekalipun. Aku sungguh ingin mengubur kenangan itu dengan membohongi diriku sendiri. Bukan ingin menghukummu dengan perasaan bersalah pula. Diantara notifikasi setiap hari aku hanya ingin melihat namamu yang ada di layar ponselku. Aku tak pernah mempermasalahakan kamu yang jarang mengabariku. Namun setidaknya jangan menghilang dikala percakapan kita perlu banyak penjelasan. Bagaimana akan saling mengerti bila tak saling memberi penjelasan. Sayang, dalam hubungan ini aku tak ingin mudah menyerah karena sebelum ada kamu situasi inii juga sudah susah. Sayang dalam menjalani hubungan ini aku tak pernah alpa dalam memahamimu, semoga kamu jga begitu.
Comments
Post a Comment