Antarlina
kiranya diri ini perlu introspeksi. menilik kembali apa saja yang dikonsumsi tiap hari, mengulas apa yang dinikmati tiap sendiri, menginagt lagi apa yang dipikirkan sebelum memejam kala tubuh sudah terbaring di atas ranjang. kiranya diri ini perlu mengingat lagi apa yang menjadi misi hingga tak kehilangan visi. aku lupa sejak kapan hidupku penuh dengan kekosongan hingar bingar. aku lupa sejak kapan kepalaku bisingnya mulai tak terarah. aku lupa sejak kapan hidupku menjadi sumbang.
terlena ditimang, diselimuti kenyamanan, dinina bobokkan lagu esok pasti sampai. hingga lupa kalau kaki ini tak mulai melangkah lagi diri ini tak akan pernah sampai.
terlalu sibuk memikirkan lelaki mana yang akan ku kencani sampai lupa ada rentetan mimpi yang harus terwujud. terlalu dalam menghisap tembakau sampai lupa ada tugas yang harus segera diselesaikan. terlalu keras tertawa di kerumunan dan menjadi paling keras di dalamnya sampai lupa kalau diri ini butuh waktu sendiri. terlalu lama sendiri terlalu lama aku astik sendiri itu lagunya kunto aji.
kiranya kini yang lekat dengan diri ini ialah huru hara tanpa guna. merebah tanpa arah, langkah yang mulai antah brantah. terlalu banyak pemakluman, jika sudah sadar kembali kepada diri sendiri tak ada ampunan. masih mudah berubah-ubah, kadang biru kadang ungu kadang ragu kadang dungu.
Comments
Post a Comment