Abra Abirupa
Kepada yang telah memenangkan hatiku. Hari ini aku memutuskan untuk berbagi keluh kesah hidupku pada manusia yang belum lama ku kenal. Manusia yang tak ku sangka membuatku tersenyum merekah. Pencarianku kini berhenti di kamu. Entah setelah itu masih ada pencarian lagi atau memang benar-benar berhenti di kamu. Aku tak menjanjikan akan bertahan selamanya bersama kamu namun aku akan melakukan semampuku untuk merawat rumah yang telah terbangun.
Pada persimpangan ku temukan kebingungan, kamu datang menawarkan kenyamanan. Tak ada alasan lainnya katamu. Aku yang masih dengan rusak sana sini, masih sering menangis sendiri dengan nekat menanyakan tentang serupa apa kita ini. Aku akan menjadi lebih berani kali ini dalam menjalani hubungan ini. Entah perasaan apa ini yang tengah menguasai, namun apapun yang terjadi aku akan menjalani dengan penuh kesadaran.
Aku telah mempersiapkan kalau saja hatiku dipatahkan olehmu sejak saat pertama kali aku menjatuhkan hati padamu. Bahkan aku juga telah mempersiapkan kalimat yang akan ku ucapkan kala perpisahan memeluk kita atau bisa saja kalimat itu hanya berhenti di kotak pesan saja. Bukan aku pesimis akan hubungan ini, namun aku hanya mencoba lebih sadar saja kalau-kalau salah satu dari kita bisa saja meninggalkan.
Untuk kekasihku kini, sayang daripada kamu takut aku diambil laki-laki lain, sepertinya yang patut kamu takuti adalah kalau saja aku diambil lebih dahulu oleh yang punya hidupku. Itu bisa terjadi kapan pun sayang.
Untuk kekasih hatiku kini, perlu kamu ketahui kala aku menuliskan ini aku masih saja merasa ada sepasang mata indahmu yang memandangiku sampai membuatku malu. Sayang, aku telah tenggelam dalam kedua binar sinar matamu yang mantep itu.
Jujur saja kala aku menuliskan ini aku takut kalau terlalu jauh jatuh ke dalam euforia dan indah pesonamu. Sialnya bahkan kala aku memejamkan mata disana aku masih saja melihatmu.
Comments
Post a Comment