Sepotong Senja Yang Ku Kembalikan

Disuatu hari, aku sedang berjalan di rel kereta dengan kekasihku. Berjalan menuju arah matahari terbenam. Kita berjalan diatas rel kereta dan bergandengan tangan sesekali saling berpandangan dan tersenyum lalu tertawa bersama. Namun kadang kami juga terdiam menikmati setiap langkah dan semilir angin sore. 

Baju dan rambut kami yang beterbangan seakan ikut menerbangkan kecemasan dan beban pada masing-masing kita. Suara warga yang bermukin di pinggiran rel kereta pun tak kami dengar, saat itu kami hanya mendengar suara hati masing-masing. Masih terus berjalan, melihat layang-layang yang diterbangkan anak-anak sekitar. Sore itu indah. Walau sepanjang berjalan masing-masing pundak memikul bebannya masing-masing namun kala bersama semua terasa bisa dilalui dan baik-baik saja. 

Dari kejauhan kereta sedang melintas namun kami tak berpindah dari tempat kami. Masih dengan posisi yang sama dan langkah yang tak berubah. Klakson kereta nyaring terdengar warga sekitar pun menyoraki kami untuk menyingkir namun kami tetap tak bergeming. Akhirnya kereta itu ngerem dan berhenti tepat di depan kaki kita. 

"gimana sih kalo pacaran jangan di sini dong" ucap kondektur kepada kita. "ya habis disini tempatnya asik buat pacaran sih. Lagian keretanya ngapain lewat jam segini sih" ucap kekasihku. "loh ya tidak bisa begitu dong, disini memang jalan kereta api. kalo ga lewat sini harus lewat mana? gorong-gorong?" balas kondektur dengan dongkol. "ya kalo bisa kenapa ga lewat gorong-gorong aja, kalian kan hanya menumpang di bumi" balas kekasihku lagi. 

Aku disana hanya diam dan sesekali memelintir ujung bajuku. Tiba-tiba kekasihku meludahi wajah sang kondektur dan menarik tanganku lalu kami berlari dikejar kereta api. Kami terus berlari sambil tertawa lepas walau sedang dikejar kereta api. Kami berlari semakin mendekati arah matahari terbenam saking jauhnya kami berlari kami mentok tepat di depan matahari. 

"akh.. silau" ucapku sambil menutup mataku. Kekasihku celingukan mencari jalan dan menyeretku menuju rerumputan yang ternyata itu adalah tumpukan bulu kambing yang berwarna hijau. Saat kereta api mendekat kekasihku meludahi sang kondektur lagi lalu lari bersembungi. Kereta api itu menabrak matahari. Matahari itu jadi hancur berkeping keping. 

Lalu kekasihku mengambil kepingan matahari itu dan memasukkannya kedalam saku bajunya. Cahanyanya terang sekali. Kereta api itu tiba-tiba hilang entah kemana, lalu aku dan kekasihku berjalan pulang sekalian mengambil dompet kekasihku yang terjatuh ketika kita berlari tadi. 
Sayangnya tak lama dari kejadian itu kami menyudahi hubungan itu. Aku mendadsak iilfil dengan kekasihku karenan dari kepala kekasihku tumbuh ubi rambat. 

Jauh setelah kejadian itu, ada paket yang tiba di rumahku. Paket itu terang sekali saat ku buka ternyata isinya potongan matahari yang dulu pernah diambil oleh kekasihku dulu. Cahayanya masih terang seperti dulu. Lalu aku menaiki tangga menuju matahari untuk mengembalikan kepingan itu karena kasian matahari, bersinar namun ada bagian tubuhnya yang hilang. 

Tamat. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis