Yellow Sign
Hai. ini aku manusia yang masih belum biasa biasa saja kepadamu. Aku masih ingin merawatmu dalam beberapa waktu pada hidupku. Aku yang selalu bertanya masihkah ada aku di hatimu, sudahkah kamu temukan yang baru, tanya yang tak pernah kamu jawab. tanya yang aku asumsikan sebagai "udah ga ada kamu dihatiku aku udah ada yang baru"
Memang benar selama kita bersama yang tak terlalu lama itu kamu banyak salahnya. Salah yang berulang kali aku maafkan. Sakit yang aku telan sendirian. Lalu sedih berkepanjangan. Semakin mempertanyakan cara kerja semesta kala aku tau kamu dapat bertahan lama dan membahagiakan manusia lain yang bukan aku.
Semakin mempertanyakan cara kerja semesta, semakin lupa kalau aku harus baik-baik saja. Semakin larut dalam tanya, semakin lupa kalau aku sebetulnya tak membutuhkannya. Apa aku kurang lama memberi waktu pada diriku untuk bersdih? Apa aku sebetulnya belum sepenuhnya menerima?
Usah kamu merasa paling menderita. Disini ada anak manusia yang hidupnya semurna kamu buat porak poranda.
Kembali lagi salahkan diri sendiri atas semua yang sudah terjadi. Kembali mempertanyakan kemampuan diri sendiri tentang mekanisme menghadapi patah hati. Kembali merasa harus mengemban bahagianya yang tak pernah dapat ku raih itu.
Kepada manusia yang berbentuk kamu. Manusia yang kerap kali tak pahami apa yang aku katakan. Aku tau banyak jarak beda antara kita. Aku tau kamu butuh waktu untuk sampai di tempatku berpijak kini. Namun demi kamu aku rela menunggu, dengan tenggat waktu yang tak ditentukan. Aku kan menunggumu selama yang aku bisa. Sebanyak maklum yang setiap hari makin bertambah pemaklumanku kepadamu.
Aku coba menghentikan hujan agar kamu tak kesusahan. Berkali-kali aku memastikan kamu mengemudi dengan aman. Agar aku dapat melihatmu esok pagi. Karena aku butuh sentuhanmu karena aku masih merasa tak cukup. Ketika sebuah foto terasa seperti adegan dalam film. Aku masih menunggumu sampai matahari tenggelam.
Kamu ada di pikiranku, selalu. Tanpa jeda.
Comments
Post a Comment