Patah
Aku kini menemukannya. Lelaki yang aku kira bisa jadi pengganti. Lelaki yang mulai penuhi rongga hati. Lelaki yang baru saja aku ketahui. Manusia yang aku kira bisa bertahan lama, namun ternyata sama saja. Sebentar, tentang patah hatiku sebetulnya aku sendiri kurang yakin makhluk Tuhan mana yang kini mematahkan hatiku. Aku menangisi diriku sendiri atau menangisi perginya, manusia yang awalnya aku kira bisa menjadi teman melihat bintang, manusia yang aku kira menjadi selanjutnya setelah bapak.
Terbuka ku dibuatmu, akankah kelak kamu akan ku miliki. Resah mendengar kau akan beranjak, murka saat ku tau kau masih dengannya. Ah malam aku letih. Bertemu dengannya gusar tiada pernah berhenti. Memang yang terbaik aku lari saja dan menari.
BILA KAU BAHAGIA AKU PUN BAHAGIA, ITU BOHONG
Aku pernah berpikir jika aku benar-benar melepasmu, ternyata semua itu hanya dalam bayanganku sendiri. Aku kira aku akan selalu baik baik saja sebab sudah ku persiapkan sebelumnya. Aku jatuh lagi untuk kali kesekian.
Langitku menjadi keruh usai senja mulai menghilang. Teduh, dimana aku akan berlindung?
Belum usai aku merangkai nada sendu, kamu yang ku kira akan menjadi nada merdu nyatanya hanya butiran debu.
Semoga kamu lekas temukan satu, tapi jangan aku. Aku sudah terlanjur dipeluk sepi tenggelam dalam gelap. Ternyata kamu tak bisa ku peluk lebih lama. Kamu tak akan pernah mendengar, duniamu terlalu hingar oleh dia yang kau anggap tak pernah ingkar.
Raga menjadi bukan perkara saat sepeninggal nyawa. Sayangnya tak ada lagi yang bisa ku dekap selain tubuhku sendiri yang sudah patah. Seandainya bisa menyentuhmu selamanya, namun memang datang tetap pergi akhirnya.
Manusia memang pandai mengingkari, bahkan pada dirinya sendiri. Berada di bawah langit yang sama tak cukup untuk jadi alasan dapat memandangnya berdua. Kini untuk apa memintamu untuk tinggal, untuk apa memintamu memulai dari awal. Untuk datang lagi aku saja sudah enggan.
Memang selamanya aku tak akan pernah tau arti lagu yang kamu senandungkan kala sendu. Aku tak pernah tau orang yang kamu rindukan kala malam mengganggu, aku tak pernah tau yang kamu pikirkan kala menjelang pagi.
Aku terlambat menyadari jika isi kepalamu adalah semesta yang sepenuhnya bukan untukku. Ternyata bukan kamu yang kelak akan ku temani sampai tutup usia. Bukan kamu yang aku tuliskan puisi hingga beda semesta.
Yang hilang tak sempat ku cegah memang sayang, namun untuk apa bersama namun mengukir damai yang tak lagi logis. Tidak ada sekali lagi sempat untuk ku tatap senyummu, sebab setelah sekali akan ada ke dua dan seterusnya.
Malam mulai bisu, namun tidak kabarmu yang katanya telah temukan gadis yang lebih lucu. Entah apa ia cukup mampu menopang tubuhmu kala berdiripun kamu tak lagi mampu. Tapi katamu kan segera pergi, mungkin tidak lagi kembali, mengapa secepat ini.
Comments
Post a Comment