Kakofini
Kita terlalu banyak bercerita untuk ukuran orang yang baru saja saling menyapa. Seakan teman lama yang kini kembali jumpa. Bukankah itu menyenangkan kedengarannya, namun ternyata sama saja. Kita tetap dua orang asing yang datang bersama cerita yang dipikul saat jauh sebelum bertemu. Kita tetap dua orang asing yang bertemu dengan menggenggam hati yang sebelumnya ditemu.
Saling meminta untuk saling melupakan dan memulainya lagi bersama rasanya terlalu cepat. Rasanya terlalu dini untuk meminta saling bercerita tentang semua. Mengingat kita masih dua orang asing yang baru saja saling menyapa.
Intuisiku yang selalu mengarah kepadamu tak cukup untuk membuatmu menetap dan bertahan lama. Mengamini setiap kata yang kau ucap tak cukup kuat menahanmu untuk tetap. Menyeduhkan puisi padamu tiap pagi tak menjamin air mataku tak luruh lagi.
Memang semua tak ada yang tau. Kepada kamu yang selalu menunda mengungkapkan isi hati, alibi mencari waktu yang tepat rasanya tak cocok lagi. Waktu yang paling tepat adalah saat itu juga, saat kamu ingin mengungkapkannya. Sebelum semua terlambat, sebelum ada yang menyelam terlalu dalam.
Jangan sampai aku tak mau lagi percaya pada semua lakumu. Jangan sampai aku tak tersentuh lagi oleh semua akumu. Sampai kapan pun kamu tak akan pernah tau sakitnya. Kamu datang dengan cepat, secepat itu pula kamu pergi. Semestaku luruh hancur luluh lantak oleh semua permainanmu. Sekali lagi, kamu tak akan pernah mengerti rasa sakit ini.
Pernah kamu tanya pada hatimu? Sudahkan aku di dalamnya? atau bahkan masih kah dia di dalamnya? aku tau tak ada manusia yang sempurna, namun tentang rasa ini tak bisakah kamu pikirkan semua? Tentang hatiku, hatimu, dan hatinya. Sebab tak ada yang tau apa kau akan kembali.
Aku terlambat menyadari jika kamu masih padanya. Terlalu cepat untukku memangilmu kekasih hati. Jika nyatanya begini semua bayangan itu kau buat seolah nyata jika aku belahan jiwa. Sekeras aku menyakini kamu kekasih hati, sekeras itu pula aku menyakiti diriku sendiri.
Maafkan aku yang tak pernah bisa melihatmu pergi. Bagaimana aku bisa melepas semua yang baru saja dimulai. Maafkan aku yang selalu ingin kamu disini. Maafkan aku yang tak bisa berlari menjauh. Maafkan aku yang tak bisa pura-pura lupa.
Rasa ini masih terbata, aku masih sibuk mengejanya sampai aku lupa membaca isi tempurung kepalamu. Terseok aku berlalu, mengingat ternyata semestamu bukan milikku. Tak ada yang tau pasti apa kamu akan benar benar berhenti meniti jalan menujunya kembali.
Comments
Post a Comment