Sniwde

Mulai malam itu aku tersadar kembali kalau Semarang tak seburuk itu. Melihat sudut kota dan kehidupan serta mereka yang mencari penghidupan. Memantik rasa syukurku hidup kembali. Malam itu seusai aku menonton band kesukaanku, Perunggu. Aku merilis dopamin yang meluap di tubuhku. Rasa senang dan energi yang dikeluarkan berlebihan, membuat ku lapar. Untuk sementara aku menyandarkan tubuhku di parkiran dan menyelonjorkan kakiku. 

Lalu, ia datang. Edwin. Malam itu adalah pertemuan kedua ku dengannya. Ia merubah gaya rambutnya. Dengan kaos band dan tas kesayangannya terselempang di bahunya. Ia datang mendekat yang awalnya ku kira itu petugas keamanan yang mau mengusirku. Walau ia merubah rambutnya, ada yang tak pernah berubah darinya. Ia masih menyenangkan seperti sejak pertama kali aku bertemu. 

Diajaknya aku ke tempat makan soto, atas permintaanku. Disana ia menuliskan sesuatu di buku catatan yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Katanya, "dibaca nanti pas di rumah". 
Selain ia lucu dan gemas, ia kalo makan juga cepat sekali. Padahal sotonya panas. huh. 
Selepas dari sana, kami memutuskan untuk nongkrong dimanapun aku nurut saja. 

Sampailah kami di Banjir Kanal? Duduklah kami disana mengobrol sampai pagi. Sambil melilhat kereta yang sesekali lewat. Aku suka kereta, aku suka malam, dan aku merasa senang malam itu. Akhirnya kami tidak lupa foto bareng. Hehe. 

Untuk Edwin, terimakasih sudah menutup hariku dengan sempurna. Terimakasih sudah selalu menyenangkan bagiku. Maaf kalau aku tidak pernah tau lukamu, luka yang selalu kamu tanggung sendiri. Lov, kalau menurutmu aku seperti baja ringan di rumah.. Lalu bagiku kamu seperti asbes. menahan semuanya. Panas hujan ia telan sendiri, kalau berisik dan panas itu karena sebab akibat dari sekitar yang menekannya. 

Asbes sama baja ringan deketan ga si? Hehe.

Win, bales chat wasap!

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis