Closure Alat Negosiasi Iblis
Ada bangku yang kosong, ada ruangan yang gelap karena orangnya sudah tidak disana, ada obrolan yang tidak terbalas. Aku masih kangen. Aku masih kangen. Aku masih kangen. Berikut adalah hal-hal yang menjadi urusan dengan diriku sendiri dan isi kepalaku. Sedang dengan manusianya, memang sudah harus selesai. Sakit. Dan yang lebih sakit ketika manusia yang ku tuliskan, sudah menulis dengan orang lain.
Banyak sekali hal-hal yang ingin aku negosiasikan, aku usahakan, aku obrolkan, aku tawarkan. Namun ia tetap begitu. Tunggang langgang tak berperasaan seperti tak ada urusan. Memang manusia itu dinamis, tidak pernah sama dan selalu berubah. Lalu satu-satunya manusia yang tidak pernah meninggalkan kita ya diri sendiri yang sering kali terlupa harus bahagia terlebih dahulu.
Berkali-kali aku berkaca menanyakan pada apa yang aku lihat disana, "kurangku dimana?". Lalu pada bagian patahku yang ini menjadi patah paling banyak. Ketika sudah berhati-hati, sudah sepenuh hati, sudah ku doakan berkali-kali, ku usahakan tak hanya sekali, tetap enyah juga.
Sialnya aku tetap memaafkannya, tetap mengharapkannya walau ia sudah meryusak segala rencanaku. Dengan sadar dan penuh kerelaan aku menerima segala buruk dan kurangnya, menukarkan semua pundi yang aku punya demi membeli bahagianya. Semua yang aku lakukan nihil tak ada hasil.
Apalagi yang dapat dibicarakan pada manusia yang sudah tak menginginkan hadirnya manusia lain. Kalau saja kita tidak pernah ada, keinginan ku untuk mencintai manusia lain seumur waktu tidak akan pernah ada.
Aku yang selalu terlalu untuk kamu yang tak pernah memikirkanku. Untuk kita yang sudah tidak ada, panjang umurlah kita sampai bisa menertawakan kebodohan ini
Ini aku yang belum mempersiapkan apa-apa selain air mata.
Comments
Post a Comment