Samsara

Sampai kapan aku menelusuri kamu yang bisu dan tak tentu arah. Serupa apa aku dalam pandangmu? Betapa hina aku sampai kisah ini terlanjur begini. Sampai nanti pada waktunya akan ku kubur dalam kelam, saat sinar kita mulai sirna. Terlanjur merasa terluka. 

Kelak jika kamu temukan tulisan ini percayalah, aku mencintaimu. 
Pada obrolan kita yang pertama kali, aku sudah tau kamu menyembunyikan sesuatu di balik tenangnya suaramu. Pada dua binar matamu, aku tau mereka menangis sebelum pejamnya. Pada bibirmu yang pandai mengulum, aku tau mereka selalu kamu paksa untuk tersenyum. Aku merasakan lara yang dipeluk erat oleh sunyi. Berkali-kali kamu dihancurkan realita yang di pundakmu harapan bertumpu. 

Tulisan ini terjeda tak ku lanjutkan. Hingga beberapa waktu kemudian aku melanjutkan tulisan ini dalam keadaan aku yang sudah tidak bersama denganmu. Hal yang sudah ku duga namun aku tetap sakit dan menangis sedikit. Terlalu banyak yang ku doakan, terlalu banyak ku dikecewakan. Belum lagi manusia lain yang pertanyakan hubunganku yang aku tau itu hanya penasaran. Tidak benar-benar peduli. 

Mulai banyak menyalahkan apa yang ada, pertanyakan kurangku dimana, salahku apa. Banyak. Banyak yang salah di dalam kepala sampai membentuk aku. Ternyata yang meninggalkan aku itu bukan kamu, tapi diriku sendiri. Kalau saja hanya kamu yang pergi mungkin tidak akan sesakit ini karena setidaknya aku masih punya aku untuk aku.

Pada bagian hidupku yang ini, jika aku harus kehilanganmu maka aku harus menemukan diriku sendiri. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis