Teman Tak Begini

 Malam kian pekat bayangmu masih lekat. Aku rindu dirimu yang fotonya baru saja ku pandangi yang ku simpan di google foto. Aku rindu padamu manusia yang baru saja ku temui. Kepada kamu yang tadi bukunya ku tulisi sebait puisi, itu adalah perasaanku. 

Aku ingin menjadi pacarmu, kini, lalu, dan esok akan selalu ingin menjadi pacarmu. Aku tidak ingin menjadi insinyur, aku hanya ingin jadi pacarmu. Aku tenggelam dalam binar sinar matamu, Kamu selalu menjatuhkan hatiku berkali-kali. 

Lalu tibalah hari itu juga. Hari dimana kamu mempublikasikan kekasihmu lewat pict profile aplikasi chating berwarna hijau itu. Semuanya sudah jelas, apalagi yang akan ku harapkan darimu yang mencintai pacarmu. Sedang aku, aku mencintai kamu yang cinta kekasihmu. Selalu begitu. Atau kalau tidak aku mencintai manusia yang tulisan di KTP pada kolom agama berbeda dengan milikku. 

Untuk kamu yang ternyata tak bisa ku anggap sebatas teman saja. Kamu masih menyerahkan hatimu padaku tapi sampai sekarang masih belum kau ambil kembali. Hatimu masih ku simpan di saku kanan belakang. Namun ternyata kamu masih punya hati lagi yang kamu berikan padanya, ia kekasihmu kini. Dan aku disini sendirian merindukanmu di ruanganku yang tak berubah sejak terakhir kita bertemu. 

Kalau kamu sadar, ini bukan tulisan pertama ku untuk kamu. Sudah beberapa kali bahkan setiap tugasmu yang aku kerjakan itu salah satu bentuk investasi harapanku padamu. Lalu pada suatu hari aku melihat dua manik matamu yang tak lekang memandang wanita yang sedang memandang sinis ke arahku. Tolong sampaikan kepada wanita yang akhirnya kamu pilih itu. Usah mencemburui aku atasmu karena ia tetap yang akan kamu jaga hatinya setengah mati. 

Bagiku kamu lebih dari sekedar teman, karena teman tak begini. 

Comments

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis