Mari Berpelukan Wahai Manusia 20an

Sekarang kita manusia berusia 20an yang sedang resah dengan segala drama gundah gulananya, hal sederhana jadi rumit, yang ringan jadi berat, yang sudah diberikan masih kurang, banyak mengeluhkan apa yang sedang di jalani, repot mengais validasi dengan berbagai isi demi sebuah eksistensi. 
Untuk semua jiwa yang sedang mengalaminya, tenang saja kamu tidak sendiri. Ada banyak manusia di dunia ini yang sedang memikul beban yang sama. 

Menurut para ahli itu namanya quarter life crisis. Menurut orang tua asia itu namanya lemah iman kurang mendekatkan diri pada sang pencipta. Menurutku itu hal yang biasa dan pasti dialami oleh semua orang hanya cara melewatinya saja berbeda-beda. Menurutku pula pendapat ahli dan orang tua asia tak ada salahnya juga, barang kali diri kita ini memang sedang mengalami lemah iman di tengah quarter life crisis ini. Kalau menurutmu berbeda ya sah-sah saja, tidak ada yang benar atau salah dalam menilai hal ini. 

Sedangkan kita bisa saja terlalu meromantisasi perasaan ini, terlalu lama bercinta dengan kesedihan, kesusahan, dan perasaan berat yang sedang kita alami kini. Menyimpan quotes-quotes sedih atau bahkan menuliskannya, mendengarkan kunto aji, hindia, rex orange, conan grey. Atau musisi yang lagunya mendukung sekali untuk menemani kala patah hati seperti pamungkas, oslo ibrahim, morad, gangga, romantic echoes. Lalu ada juga idgitaf dengan lagunya yang ternyata cukup related dengan keadaan kita ini. 

    "Takut tambah dewasa takut aku kecewa takut tak seindah yang ku kira" 

Ternyata kita ini generasi yang banyak takutnya ya. Disadari atau tidak apa yang kita dengar, yang kita baca, yang kita lihat akan mempengaruhi diri kita dan cara kita memandang dunia. 
Namun terlepas dari itu semua ya tak apa. Dalam menjalani hidup kita memang perlu menyamakan frekuensi sekitar dengan apa yang sedang kita rasakan. Mendengar lagu galau ketika sedang galau terasa mendukung suasana sekali untuk menangisi nasib dan kepatahan hati. Namun ya mau sampai kapan akan begitu. 

Masalah demi masalah bermunculan, seperti ingin memiliki kekasih namun tak benar-benar ingin katanya hanya ingin memiliki manusia yang selalu ada mendengarkan keluh kesahnya, ingin kaya punya uang banyak agar mampu membeli gaya hidup dan bahagia, ingin menjadi keren dan serasa siap menghadapi dunia, namun tiap malam menangis di balik selimut sambil mendengarkan rehat milik kunto aji. 

Aku mengalami semua apa yang aku tuliskan maka ketika kamu sedang merasakan hal yang sama, tenang saja kamu tidak sendirian maka mari berpelukan. 
Percayalah badai ini akan segera berlalu dan kita pasti bisa melewatinya. Seperti dulu ketika kita dari anak-anak beralih menjadi remaja rasanya juga sangat tak mengenakkan bukan. Ini juga sama begitu, masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Sabar, kelak kita pasti akan menemukan polanya ketika waktunya sudah tiba. Setelah itu pada angka usia tertentu kita juga akan menemui situasi seperti ini lagi, masa peralihan dari dewasa menjadi tua. 

Anggap saja apa yang kita lalui ini adalah proses mencapai kematangan diri. Bukankah menjalani hidup adalah serangkaian proses sebelumnya sampai pada kematian. 

Comments

  1. Wah, akupun merasakan hal yang sama. Kadang tak tentu arah. Kece badai ough kakak Irit😍😍😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aponia

Aku Sayang Adi Sukoco

Tristis